A Tribute to My Friend

Senin malam menjelang dini hari, aku masih duduk di kamar, di depan meja, dan menatap buku C1 dengan bantuan cahaya lampu belajar. I felt like I was real tired and sleepy. But that night, I just don’t know why I wanna stay a bit longer. Sekitar pukul 11 malam, handphoneku bergetar (ya, bergetar, selama ini aku hampir selalu mengaktifkan handphoneku dalam modus getar). Di LCD terpampang sebuah pengingat. Pengingat ulangtahun tepatnya. Karena keesokan harinya adalah ulang tahun salah seorang teman, dialah Anggoro Dwi Purnomo. Pada tanggal 11 Mei, 19 tahun yang lalu, dia dilahirkan di dunia ini.

Dia seharusnya merayakan ulangtahunnya yang ke sembilan belas pada saat ini. Namun berkehendak lain. Dia telah berpulang ke Rahmatullah, bahkan di umur yang masih sangat muda. Sejenak aku berhenti dari kesibukanku dan menatap layar LCD handphone, sementara di kepalaku bergelayutan memori-memori dimana aku, Azis, Anggoro, dan teman-teman lain satu perumahan berkumpul, bercengkerama, bermain futsal, dan berbagai hal lain yang takkan pernah terhapuskan dari kepalaku. Masih teringat jelas juga di kepalaku, ketika dulu, aku sedang berada di tetangga Oma yang bernama Frau Euler, sebuah panggilan masuk dan aku agak heran ketika mengetahui bahwa panggilan tersebut berasal dari Indonesia, dari Anggoro. Dia menanyakan kabarku, kapan aku dan Azis pulang ke Kediri. Dan dia juga menanyakan kapan anggota persaudaraan Candra Kirana berkumpul tanpa kurang seorangpun. Dan kamipun untuk pertama kalinya bercakap-cakap, setelah sekian lama. Dan dua minggu kemudian, aku mendapat kabar bahwa dia telah tiada. Dunia serasa tiba-tiba gelap. Bukan hanya karena aku sedih karena kehilangan seorang teman dekat, melainkan juga karena aku berada di sebuah tempat yang jauh, bermil-mil jauhnya, dan aku tidak punya kesempatan untuk berkumpul dengan yang lain. Aku telah berjanji untuk segera pulang ke rumah dan berkumpul bersama teman-teman lain, namun aku tampaknya gagal menepati janjiku. Kadang (bahkan sering!) jalannya hidup ini tidak bisa diprediksi. Suatu saat kita tertawa, suatu saat kita sedih. Kadang kita seolah berada di puncak pegunungan Himalaya, kadang kita merasa berada di palung laut terdalam di dunia dan merasa bahwa kita sulit untuk keluar dari keadaan. Kadang kita sendiri yang secara tidak sadar (unterbewusstsein) menciptakan sebuah keadaan, dimana keadaan itu pada akhirnya akan menahan langkah kita untuk bergerak maju. Aku teringat ucapan Pak Malik: ibaratkan kita punya sebuah list rencana yang kita susun untuk kehidupan, dan di sisi lain, Tuhan punya list rencana-Nya sendiri. Ketika kedua daftar rencana itu kita sejajarkan, dan kita hubungkan tiap-tiap poin diantara keduanya yang saling match, itulah yang selama ini kita sebut dengan keberhasilan. Tentu saja tidak semua poin dari rencana kita punya match dengan poin yang ada di rencana Tuhan. Di sisi lain, hanya pasrah pada apa yang diberikan Tuhan tanpa ada tujuan atau rencana hidup yang jelas, juga kurang baik.

Well kadang juga, kita (termasuk aku) ketika kehilangan sesuatu atau seseorang, meneteskan air mata. Padahal di waktu yang bersamaan mulut kita mengucapkan kalimat yang artinya: sesungguhnya kita berasal dari Tuhan dan kepada-Nya kita kembali. Dulu, aku selalu ada perasaan ragu untuk mengucapkannya secara jelas. Bukan karena meragukan fakta kalimat tersebut, melainkan karena aku belum yakin aku mampu bersikap sesuai dengan makna kalimat tersebut. Apa makna dari kalimat tersebut kalau kita masih merasa kehilangan? Apa kalimat tersebut sekarang beralih fungsi menjadi tradisi yang diucapkan hanya ketika ada orang yang meninggal? Tidakkah aneh ketika mulut kita mengatakan bahwa kita ikhlas, namun didalam hati kita masih sedih dan belum merelakan? Oke tak perlu kita berlama-lama pada topik bahasan tersebut. Akupun disini tidak menjudge orang-orang (termasuk pembaca) melainkan diriku sendiri. Kadang aku sedih dan tidak menerima kenyataan yang ada. Tetapi ketika masalah berlalu, aku heran mengapa aku begitu mudahnya kecewa dan sedih. Apakah seiring berjalannya waktu, aku dapat berubah? Ask yourself, Fikri.

Disini aku ingin mempersembahkan sebuah lirik lagu dari Ari Lasso berjudul Mengejar Matahari. Salah satu dari beberapa lagu Indonesia favoritku.

Di sini ada satu kisah
Cerita tentang anak manusia
Menantang hidup bersama
Mencoba menggali makna cinta

Tetes air mata… Mengalir di sela derai tawa
Selamanya kita… Tak akan berhenti
mengejar…Matahari

Tajamnya pisau takkan sanggup
Koyakkan cinta antara kita
Menembus ruang dan waktu
Menyatu di dalam jiwaku



Blog at WordPress.com.
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.