Karneval der Kulturen

Lewat pukul satu siang, aku berada di Hermannplatz, yang terletak tidak jauh dari pusat kota Berlin. Hari itu, Minggu 23 Mei 2010 adalah hari spesial bagi seluruh warga Berlin (kalau mungkin tidak cukup besar untuk seluruh warga Jerman), karena pada hari tersebut diadakan sebuah parade budaya bertajuk “Karneval der Kulturen” yang artinya kurang lebih adalah Karnaval Budaya. Cukup menarik, acara ini, apabila kita melihat latar belakangnya diadakan acara ini. Sehari setelah acara ini, tepatnya hari Senin, 24 Mei 2010, adalah hari libur nasional, bernama Pfingsten. Di hari ini, menurut kepercayaan umat Nasrani, the Holy Spirit memberikan kemampuan kepada murid-murid Jesus untuk berbicara dengan berbagai bahasa, untuk menyebarkan kalimat-kalimatnya. Maaf apabila penjelasan tersebut kurang tepat karena penulis sendiripun sebelumnya samasekali tidak pernah mendengar sejarahnya dan baru sedikit menangkap beberapa poin berkat penjelasan (dalam bahasa Jerman dan bukan bahasa Jerman sehari-hari) dari Oma. Oleh karena itu Karnaval ini dimeriahkan oleh kontestan dari berbagai negara dan disini semua orang berbaur satu sama lein dan saling mengenal budaya negara-negara lain.

Dan akupun berdiri ditengah kerumunan orang yang sangat antusias ingin melihat peserta-peserta dari berbagai negara berunjuk kebolehan, mempertontonkan kebudayaan mereka masing masing. Brazil, Colombia, Bolivia, Peru, Chile, dan negara-negara Amerika Latin lainnya menjadi pusat perhatian dalam acara ini. Namun anehnya, Estados Unidos Mexicanos, alias Meksiko, yang juga negara yang kaya budaya (terutama dengan Sombrero-nya yang mendunia) kurang mendapat perhatian dari penonton karena memang kurang menarik. Well, hal ini juga disayangkan salah satu teman sekelasku yang berasal dari negara tersebut, Gloria.

Salah seorang teman dari Vietnam, Shing, pun ikut melontarkan komentar ketika grup dari Thailand melintas didepan kami, “Hey dimana kontestan dari negara kita, masa’ kalah dengan Thailand?” Yeah, mungkin penonton yang lainpun juga mengharapkan keikutsertaan Indonesia di acara ini, karena untuk masalah kekayaan budaya (bukan bermaksud sombong) Indonesia tidak pernah kalah dari negara-negara lain. Ditambah catatan bahwa pada tahun 2004 , tim dari Indonesia yang menamakan dirinya “Rampai Budaya Indonesia” menyandang status juara. Namun untuk tahun ini, warga Indonesia sedang berkabung. Ya, berkabung atas wafatnya Bu Ainun, istri dari mantan Presiden Indonesia, B.J. Habibie. Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya. Amin.

Foto-foto dalam slideshow ini memiliki kualitas gambar yang kurang baik, karena tenaga batere kameraku telah habis dan aku akhirnya menggunakan handphone Blackberry sepanjang jalannya acara. Untuk backsound, I put In Your Eyes by Peter Gabriel, taken from his live concert with Nusrat Fateh Ali Khan. Versi favoritku untuk lagu dengan lirik yang sangat indah ini.

Hingga pukul 6 sore, aku harus berpamitan dengan teman-temanku, termasuk Adelina dari Rumania, Yannick yang di beberapa posting sebelumnya sudah aku sebutkan, dan lain lain, karena pukul 7 malam (atau sore) aku harus berada di Opern Palais untuk menyaksikan penampilan pemain jazz terkenal dari Indonesia, Tohpati. Tulisan berikut foto-fotonya menyusul di posting berikutnya.

Set The Fire To The Third Bar

I find the map and draw a straight line
Over rivers, farms, and state lines
The distance from A to where you’d ‘B’
It’s only finger-lengths that I see
I touch the place where I’d find your face
My fingers in creases of distant dark places

I hang my coat up in the first bar
There is no peace that I’ve found so far
The laughter penetrates my silence
As drunken men find flaws in science

Their words mostly noises
Ghosts with just voices
Your words in my memory
Are like music to me

I’m miles from where you are,
I lay down on the cold ground
I, I pray that something picks me up
And sets me down in your warm arms

After I have travelled so far
We’d set the fire to the third bar
We’d share each other like an island
Until exhausted, close our eyelids
And dreaming, pick up from
The last place we left off
Your soft skin is weeping
A joy you can’t keep in

I’m miles from where you are,
I lay down on the cold ground
And I, I pray that something picks me up
and sets me down in your warm arms

And miles from where you are,
I lay down on the cold gound
and I, I pray that something picks me up
and sets me down in your warm arms


Well, today I had a chat with some friends in Indonesia. Some of them are really my close friends. And now I thought I feel like I miss my homeland, my hometown, my pals, and everything. Thats why in this post I just put a song (with a good lyric), by Snow Patrol, an english band.

God give me power. In less than a month I will do a test. Charité. Some guys told me that there are only two foreign students in a year who are able to enter this well-known-for-its-medicine-study University. But it’s ok, I will try. We’ll see. If I can go through this all, I will be thinking of coming back to my country.

A Tribute to My Friend

Senin malam menjelang dini hari, aku masih duduk di kamar, di depan meja, dan menatap buku C1 dengan bantuan cahaya lampu belajar. I felt like I was real tired and sleepy. But that night, I just don’t know why I wanna stay a bit longer. Sekitar pukul 11 malam, handphoneku bergetar (ya, bergetar, selama ini aku hampir selalu mengaktifkan handphoneku dalam modus getar). Di LCD terpampang sebuah pengingat. Pengingat ulangtahun tepatnya. Karena keesokan harinya adalah ulang tahun salah seorang teman, dialah Anggoro Dwi Purnomo. Pada tanggal 11 Mei, 19 tahun yang lalu, dia dilahirkan di dunia ini.

Dia seharusnya merayakan ulangtahunnya yang ke sembilan belas pada saat ini. Namun berkehendak lain. Dia telah berpulang ke Rahmatullah, bahkan di umur yang masih sangat muda. Sejenak aku berhenti dari kesibukanku dan menatap layar LCD handphone, sementara di kepalaku bergelayutan memori-memori dimana aku, Azis, Anggoro, dan teman-teman lain satu perumahan berkumpul, bercengkerama, bermain futsal, dan berbagai hal lain yang takkan pernah terhapuskan dari kepalaku. Masih teringat jelas juga di kepalaku, ketika dulu, aku sedang berada di tetangga Oma yang bernama Frau Euler, sebuah panggilan masuk dan aku agak heran ketika mengetahui bahwa panggilan tersebut berasal dari Indonesia, dari Anggoro. Dia menanyakan kabarku, kapan aku dan Azis pulang ke Kediri. Dan dia juga menanyakan kapan anggota persaudaraan Candra Kirana berkumpul tanpa kurang seorangpun. Dan kamipun untuk pertama kalinya bercakap-cakap, setelah sekian lama. Dan dua minggu kemudian, aku mendapat kabar bahwa dia telah tiada. Dunia serasa tiba-tiba gelap. Bukan hanya karena aku sedih karena kehilangan seorang teman dekat, melainkan juga karena aku berada di sebuah tempat yang jauh, bermil-mil jauhnya, dan aku tidak punya kesempatan untuk berkumpul dengan yang lain. Aku telah berjanji untuk segera pulang ke rumah dan berkumpul bersama teman-teman lain, namun aku tampaknya gagal menepati janjiku. Kadang (bahkan sering!) jalannya hidup ini tidak bisa diprediksi. Suatu saat kita tertawa, suatu saat kita sedih. Kadang kita seolah berada di puncak pegunungan Himalaya, kadang kita merasa berada di palung laut terdalam di dunia dan merasa bahwa kita sulit untuk keluar dari keadaan. Kadang kita sendiri yang secara tidak sadar (unterbewusstsein) menciptakan sebuah keadaan, dimana keadaan itu pada akhirnya akan menahan langkah kita untuk bergerak maju. Aku teringat ucapan Pak Malik: ibaratkan kita punya sebuah list rencana yang kita susun untuk kehidupan, dan di sisi lain, Tuhan punya list rencana-Nya sendiri. Ketika kedua daftar rencana itu kita sejajarkan, dan kita hubungkan tiap-tiap poin diantara keduanya yang saling match, itulah yang selama ini kita sebut dengan keberhasilan. Tentu saja tidak semua poin dari rencana kita punya match dengan poin yang ada di rencana Tuhan. Di sisi lain, hanya pasrah pada apa yang diberikan Tuhan tanpa ada tujuan atau rencana hidup yang jelas, juga kurang baik.

Well kadang juga, kita (termasuk aku) ketika kehilangan sesuatu atau seseorang, meneteskan air mata. Padahal di waktu yang bersamaan mulut kita mengucapkan kalimat yang artinya: sesungguhnya kita berasal dari Tuhan dan kepada-Nya kita kembali. Dulu, aku selalu ada perasaan ragu untuk mengucapkannya secara jelas. Bukan karena meragukan fakta kalimat tersebut, melainkan karena aku belum yakin aku mampu bersikap sesuai dengan makna kalimat tersebut. Apa makna dari kalimat tersebut kalau kita masih merasa kehilangan? Apa kalimat tersebut sekarang beralih fungsi menjadi tradisi yang diucapkan hanya ketika ada orang yang meninggal? Tidakkah aneh ketika mulut kita mengatakan bahwa kita ikhlas, namun didalam hati kita masih sedih dan belum merelakan? Oke tak perlu kita berlama-lama pada topik bahasan tersebut. Akupun disini tidak menjudge orang-orang (termasuk pembaca) melainkan diriku sendiri. Kadang aku sedih dan tidak menerima kenyataan yang ada. Tetapi ketika masalah berlalu, aku heran mengapa aku begitu mudahnya kecewa dan sedih. Apakah seiring berjalannya waktu, aku dapat berubah? Ask yourself, Fikri.

Disini aku ingin mempersembahkan sebuah lirik lagu dari Ari Lasso berjudul Mengejar Matahari. Salah satu dari beberapa lagu Indonesia favoritku.

Di sini ada satu kisah
Cerita tentang anak manusia
Menantang hidup bersama
Mencoba menggali makna cinta

Tetes air mata… Mengalir di sela derai tawa
Selamanya kita… Tak akan berhenti
mengejar…Matahari

Tajamnya pisau takkan sanggup
Koyakkan cinta antara kita
Menembus ruang dan waktu
Menyatu di dalam jiwaku



Hakescher Markt.

Last weekend was a super-duper-tiring day I’ve ever had so far. But it was pretty fun. Well, at Saturday, I played football with my mates, Indonesian students, along with some foreigner from Japan and Singapore (I’m back! after a-long-week-without-ball). And I still have a big problem until that last game: Ausdauer. Yeah I can’t ständig 90 minutes running. Actually I’ve planned to do some short-training-program including 30 minutes (or maybe an hour, bila waktu mencukupi) running along the park. Aber bisher kann ich leider keine richtige Zeit finden. Ich muss früh am morgen aufwachen, dann beginnt der unterricht um 9 uhr am morgen. Und dann bin ich wieder zurück zu Hause, normalerweise um 5 uhr nachmittag. Tidak berhenti sampai disitu. Sesampainya dirumah aku menghabiskan waktu di depan mejaku, entweder membaca buku, koran, majalah, oder mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk.

Well, lets go back to our topic. Tentang weekend. Sepulang dari lapangan bola, I took a bath. Segera aku menuju ke tempat yang aku pilih sebagai judul diatas : Hackescher Markt. Nama ini sebenarnya terdengar tidak asing di telingaku, yang pada bulan Mei ini telah menginjak usia setengah tahun menyandang ‘gelar’ sebagai seorang Berliner. Namun selama ini (sesuai dari informasi yang aku rangkum dari mulut teman-teman) yang ada di otakku selalu negatif. Hakescher Markt adalah tidak lebih dari sekedar deretan kafe-kafe yang ramai di waktu malam, ditambah status tak resmi sebagai pusat prostitusi (ya, prostitusi, beberapa minggu setelah aku tiba di Berlin, aku berjalan sepanjang Hackescher Markt dan menemukan beberapa (atau bahkan bisa dibilang banyak) perempuan-prempuan berkaki jenjang, berambut pirang, bertubuh aduhai, berwajah cantik, berpakaian minim dan seksi, yang berdiri dan memamerkan dirinya, dibawah siraman cahaya lampu warmlight dan sinar rembulan di malam hari, suasana diatas masih dilengkapi dengan trem khas Eropa yang melintas setiap sekian menit sekali. Well then I thought that Hackescher Markt wasn’t a real “markt”, it’s nothing more than just a name.

Paling tidak pemikiran tersebut langsung lenyap setelah weekend lalu, setelah dalam waktu yang lama berada di otakku. Semua berkat ajakan dari seorang sahabat dari Iran yang pada beberapa hari sebelumnya mengajakku untuk mengunjungi stand-nya di Hackescher Markt. Pasar tradisional tersebut, layaknya banyak pasar di Berlin, Jerman, dan bahkan di banyak tempat di negara-negara besar di Eropa, hanya diselenggarakan pada akhir pekan. Disana berjejer banyak stand, tak jarang dari mereka menawarkan barang-barang unik dan menarik, sebagai contoh toko sahabatku yang menjual kue khas Persia, (dan juga Arab dan Turki) bernama Baklava.

Hal tersebut tentu saja menarik banyak turis dari mancanegara yang pada saat itu sedang singgah di Berlin. Dan sahabatku tampak senang dengan kehadiranku, akupun turut membantu, terutama ketika dia harus berhadapan dengan para turis berbahasa Inggris. Dan akupun merasa senang karena kehadiranku tidak percuma, walaupun mungkin tidak terlalu berarti. Pukul setengah tujuh waktu setempat aku berpamitan. Tak lupa aku membeli satu pack Baklava. Dia memberiku lebih dari jumlah standard untuk satu pack, plus aku mendapatkan harga spesial. I need to pay only 3 €, instead of 5 €. Thankyou.

Umzug + Vorbereitungskurs.

Ein Umzug. That’s the main topic of my post today. This month, May, I moved. I’m no longer in Beusselstrasse, Tiergarten, but now I live in Innsbrucker Platz, Schöneberg, near my school. Well actually my cousin supposed to stay here, but he’s preparing to move to Switzerland (dunno what’s the name of the city) that’s why he called me and asked me if I wanted to replace him. But yeah, I feel good, cos when I move here, It means now I live with my Oma. Das heißt, ich muss unbedingt auf Deutsch sprechen. Gott sei Dank. And I began this month with a tiring day. Six hours Deutsch lernen. SIX hours. So I’ve decided to take 2 courses this month. I continue my C1 Kurs, which I’ve already begun since last month, und gleichzeitig habe ich mit dem Vorbereitungskurs angefangen.

Well, about my new class. Hmm, I’m pretty sad to leave my friends in my former class; Sasha, Gareth, Yosra, Sing, Maria, usw. Sie sind am besten. And my current class, Vorbereitungskurs für Studienkolleg, is pretty chaotisch. There are about thirty people in this class and most of them are from middle east and they speak den ganzen Tag auf Arabisch. Oh Gott, no way! Was soll das?? How long can I hold on against such situation. The way they speak, the way they behave in the class, undiszipliniert würde ich sagen. And it’s totally not me. Die Klasse ist sogar ganz anstrengend, mir ist sehr unangenehm. Die Materien sind eigentlich nicht so scwierig. Aber trotzdem, wegen der Zahl der Schüler, sind die Atmosphäre in der Klasse richtig chaotisch. Ich muss jetzt versuchen, in Ruhe zu bleiben. Nach dem Unterricht muss ich dann viele Hausaufgaben machen. I do everything for my goal, which I already planned to reach by the next 3 months : Charité Universitätzmedizin Berlin.

Satu lagi hal yang ingin aku lepaskan dari pikiranku – salah satunya melalui blog ini – adalah teman baruku. Lebih temannya teman sebangku baruku. Bukan di kelas C1 melainkan di kelas Vorbereitungskurs. Seorang pemuda dari salah satu negara di timur tengah. Awal berkenalan, dia terlihat senang setelah tahu namaku yang diambil dari bahasa Arab, kemudian setelah tahu bahwa agamaku Islam. But it didn’t last long. Selama pelajaran, dia mulai membicarakan hal-hal yang tidak penting (dan tidak penting juga untuk aku sampaikan disini, selebihnya agak ekstrem). Aku mulai agak terganggu. Kata-kata yang dia lontarkan hanya berputar-putar di masalah agama. Awalnya aku hanya ingatkan bahwa sebaiknya di waktu pelajaran, sebaiknya kita berkonsetrasi penuh, rather than bullshitting. Dia hanya tersenyum dan meneruskan ceramahnya. Oh Gott. OK, fine, I will be patient and stay focus. Di hari esoknya, ada seorang cewek Albania menempati tempat duduk di depan kami. Dan lagi, di waktu pelajaran, dia mulai mengatakan hal-hal yang tidak penting: “Seorang wanita berada di depan pria itu sangat tidak baik. Sangat TIDAK BAIK.” Oh Gott! Why should we care about that? We are not praying in a Mosque! We’re in a classroom! Then I said, wieso? das ist ganz normal, kein problem für mich -kenapa begitu? wajar aja, tidak menjadi masalah buatku. Dia terkejut, dan melihat reaksinya aku merasa jijik. You’re so pathetic, my friend. Kau manusia menyedihkan. Well then, menjelang akhir jam pelajaran, kami memperoleh beberapa latihan yang cukup sukar untuk dikerjakan. Thank God, materi latihan itu sudah pernah kuterima di kelasku yang lain, yang artinya aku bisa mengerjakan dengan cukup lancar. Namun tampaknya temanku tidak, dan dia terlihat sangat frustrasi. Aku keluarkan suara (tawa kecil, lebih tepatnya, yang tak lebih dari seperempat detik lamanya) bernada sinis yang sudah jadi ciri khas seorang Fikri selama di Indonesia dan baru keluar pada detik itu setelah waktu yang cukup lama. OK dan dia nampaknya kurang senang. Ketika pulang, dia tampak bergegas. Esoknya, dia nampak badmood, dan ketika aku ajak bicara, dia tampak membuang muka. Dalam hati aku ingin tertawa keras. Dasar anak kecil yang menyedihkan. Manusia menyedihkan seperti ini yang menurutku membuat orang-orang awam menjaga jarak terhadap dunia Islam yang sesungguhnya sangat indah, bersahabat, dan penuh kedamaian. Wake up, my friend.

Blog at WordPress.com.
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.