Internationale Grüne Woche – Berlin

•28. January 2010 • Leave a Comment

Seperti beberapa hari terakhir, salju hari ini turun deras dan suhu diluar mencapai kisaran -15. It’s damn cold. Well I got a real good topic this time. It’s mainly about an “austellung” (Deutsch, which means exhibition) called Internationale Grüne Woche (International Green Week), yang diselenggarakan di Berlin, sekali tiap tahun, mulai tanggal 15 hingga 24 Januari. Grüne Woche, begitu pameran ini akrab disebut, adalah sebuah pameran yang mempertunjukkan (terutama) sajian masakan dari seluruh dunia. Masih ada lagi selain masakan, yakni di bidang pertanian, perkebunan, dan peternakan. Dilihat dari namanya, pameran ini mengajak kita untuk kembali pada alam, sebuah dunia yang hijau yang telah eksis di Bumi ini bahkan sebelum manusia modern mendirikan bangunan pertama, yang nampaknya sudah mulai terlupakan, secara ironis tergantikan posisinya oleh bangunan-bangunan megah nan mewah.

Mengunjungi pameran ini juga merupakan salah satu bagian dari program studi di Hartnackschule, sekolah bahasa dimana aku berada sekarang. It’s called an “Exkursion”, where we must go outdoor and socialize with people. Cos we need language to communicate, not only written but also orally. We went to this exhibition on Friday morning, a week ago. Our teacher said we should go on Friday instead of Saturday, cos there’ll be too crowded, a lot of people on weekend and we can’t possibly enjoy it. Event ini benar-benar menarik perhatian banyak orang sehingga kami tidak punya pilihan lain selain berada disana setengah jam sebelum gedung pameran dibuka. Sekitar jam 9.30 pagi. Dan benar saja, ketika kami datang, sudah ada orang mengantre didepan loket untuk membeli tiket masuk yang bahkan tidak terlalu murah untuk orang Jerman sendiripun (€ 12 harga normal, dan khusus pelajar, kami mendapat keringanan biaya, sehingga kami hanya perlu membayar € 7)

Banyak negara ikut berpartisipasi dalam acara ini, sebutlah Russia, Üngarn (Hungaria), Norwegia, Italia, Swiss, Austria, Belanda, Rep. Ceko, Slovakia, USA, Kanada, Inggris, Turki, Arab, Iran, Lebanon, China, Jepang, bahkan Vietnam dan Thailand, dan masih banyak yang lainnya (bahkan beberapa negara dari Afrika dan Amerika Latin pun ikut ambil bagian dalam event akbar ini). One thing that probably a bit dissappointing is, I couldn’t find any Indonesian foods there. Wie schade, I couldn’t remember the names of those dishes. One that I could easily remember was Yoghurt mit Walnuss from Dänemark (Denmark). Semua negara bebas mendesain tempatnya sendiri-sendiri. Bahkan di bagian domestik, tiap-tiap Bundesland (sebutan untuk negara bagian) mendapat tempat tersendiri. Semuanya menonjolkan budayanya masing-masing. Yang cukup menarik adalah di bagian negara Belanda, dimana terdapat kincir angin raksasa, berdiri kokoh di pojok salah satu ruangan. Perlu diketahui, pameran ini bertempat di Messegelände, yang terdiri dari puluhan ruangan seukuran empat (atau mungkin enam) kali lapangan basket dan tersambung menjadi satu. Bahkan tidak hanya satu tingkat, melainkan tiga tingkat. Bisa dibayangkan betapa luas kompleks Messegelände (yang nampaknya dilihat dari namanya, Messe yg berarti pameran, didirikan khusus untuk even-even eksibisi bertaraf internasional) ini.

Tak kalah menarik, Hungaria, yakni mengenai salah satu kota mereka bernama Pécs, sebuah kota kecil di lereng pegunungan Mecsek di bagian selatan Hungaria, dekat dengan perbatasan antara Hungaria dan Kroasia. Kota penuh nilai sejarah yang pada tahun 2010 terpilih sebagai Kulturhaupstadt Europas (Ibukota budaya Eropa). Ada banyak informasi yang mereka sediakan berkaitan dengan kota ini. Termasuk video yang mempertontonkan bangunan-bangunan dan pemandangan di kota mereka. Well, intinya adalah, di pameran ini banyak negara berkompetisi untuk memajukan tourism negaranya masing-masing. But that’s not bad at all. Dari sini kita bisa mengetahui banyak budaya negara lain, dan juga menjadi referensi untuk liburan mendatang (yang memang aku rencanakan untuk kota-kota kecil, untuk menghemat biaya, dan salah satu syaratnya adalah: kota tersebut harus memiliki nilai sejarah tinggi). Selain masakan, aku juga mengunjuni bagian pertanian, peternakan, dan perkebunan (untuk bagian yang disebutkan terakhir, aku yakin 100 persen ayahku akan menghabiskan waktu tak kurang dari satu jam disana). Namun aku kurang begitu tertarik, so aku tidak bisa bercerita banyak tentang mereka. Overall, it was super cool. I was there for about 4 hours and I tried many dishes from the countries throughout the world.

My first birthday in someone’s land..

•11. January 2010 • Leave a Comment

Sembilan Januari, tepat pukul 15.35 waktu Indonesia bagian barat, 19 tahun lalu, aku datang ke dunia ini. Well, life goes so fast, it’s been 19 years I’ve been living in this fake world. Rasanya baru beberapa minggu lalu aku bermain di pantai di Bali bersama teman-teman semasa SMP, dan baru kemarin rasanya aku berkumpul bersama teman-teman luarbiasa semasa SMA -sebutlah Faisal, Angga, Rara, Roberto, Baskara, dan banyak lainnya- di sekolah untuk mempersiapkan mading untuk kemudian diikutsertakan dalam kompetisi mading Jawa Pos. Dan rasanya seperti tahun baru kemarin, dimana aku, mein brud Azis, dan teman-teman tetangga satu perumahan, menggila di tahun baru, berangkat ke Malang seusai menyaksikan pesta kembang api yang juga dilaksanakan di dalam perumahan, tanpa persiapan apapun dan tanpa rencana ataupun keinginan (baik terucap maupun terpikirkan) sebelumnya. Well, semua itu terjadi, karena di dalam mobil, dimana kami semua berada, salah satu dari kami (dengan nada bercanda), bertanya: bagaimana jika kita sekarang pergi ke Malang? Teman yang lain menjawab: ayo, siapa takut! Seorang teman yang kala itu mengendarai mobil pun mengiyakan. Azis menambahkan: hari ini, kita semua, mengendarai mobil menuju Malang, tanpa alasan dan sebab tertentu. Alasannya hanyalah kebersamaan dan ikatan kekeluargaan diantara kita. Salah satu teman yang lain pun menambahkan: dan setidaknya ada satu hal yang cukup menarik untuk diceritakan kepada anak cucu kita dikemudian hari. Disepanjang jalan, kami bernyanyi, meniup terompet, dan tertawa. Well, actually its not a good thing, but at least, its such an experience.

Jadi, hari Sabtu malam, pukul 22.00 local time Berlin, kami keluarga Beusselboys (sebutan yang kami ciptakan sendiri, karena jalan tempat apartemen kami berada bernama Beusselstrasse) makan malam di sebuah restoran bergaya Arab. Lebanon tepatnya. Nama restoran tersebut adalah El-Reda (pernah aku bahas di beberapa posting sebelumnya). Selain kami berempat, ada satu lagi yang ikut, dia adalah Chandra, teman serumah sepupuku disini. Instead of inviting a lot of people in a “cheap” party, I prefer having a small celebration, just for some people that I do know them well. Awalnya sepupuku berencana ikut, tetapi karena ada janji dengan temannya (maklum, pemberitahuan makan malam baru disampaikan di pagi harinya), dia tidak datang di acara makan malam ini. Yang menarik dari restoran ini adalah, menu-menu yang disajikan bukan hanya masakan Arab, melainkan juga masakan dari Iran dan Irak (Persia). Harganyapun sedikit mahal bagi kami para pelajar dari luar (apalagi bila kita konversi ke rupiah), berkisar antara € 7 – € 18 (untuk porsi yang benar-benar bisa disebut “makan malam”). Namun tidak terlalu mahal juga bila dibandingkan dengan restoran – restoran lain di Berlin. Plus, menu makanan Persia cocok dengan lidah kita. Sembari menyantap hidangan makan malam, kami juga berbincang-bincang mengenai berbagai topik. Dan kami baru beranjak menuju ke rumah lewat pukul setengah dua dini hari. Well its such a warm night. Thankyou guys!

Eine neue Klasse..

•6. January 2010 • Leave a Comment

Well, ini adalah hari keduaku menjalani kelas bahasa Mittelstuffe (B2). Di kelas baru, aku berkenalan dengan teman-teman baru pula. Kebanyakan dari mereka memang beberapa tahun lebih tua, karena kebanyakan orang yang mengambil kursus Mittelstufe adalah mereka yang berencana melanjutkan program pascasarjana (S2) disini. Dan Hartnackschule memiliki dua kelas B2 di jam yang sama, sehingga aku terpaksa berpisah dengan teman-temanku dari kelas sebelumnya. Namun syukurlah, masih ada dua orang dari kelasku sebelumnya yang sekarang berada satu kelas denganku, yakni Areen, cewek dari Israel, dan Pak Marlius, dari Indonesia, yang berencana menempuh S2 di bidang ekonomi (Wirtschaft). Mungkin dari kedua orang tersebut, yang lebih dekat denganku adalah Areen, karena dia berumur sama denganku, dan dia juga berencana mengambil kuliah kedokteran di Charité Universitätsmedizin Berlin. Alasan kedua adalah, aku jarang bercakap-cakap dengan Pak Marlius karena beliau selalu mengajak berbicara dengan bahasa Indonesia. Sesuatu yang berusaha aku hindari selama ini, salah satu hal yang juga mendorongku untuk pindah tempat tinggal dan tinggal di apartemen seorang diri (namun sampai saat ini masih ragu karena untuk kontraknya ternyata bukan untuk jangka waktu yang pendek, padahal aku masih belum tahu akan diterima dimana aku nantinya).

Di kelas baru, aku juga berkenalan dengan salah seorang kolega dari Indonesia, dia bernama Vivin. Dia menempuh SMA di Santo Josef Malang (mendadak aku bernostalgia, teringat masa SMA, dimana kami dari Smada seringkali dikalahkan di lomba-lomba olimpiade matematika atau semacamnya). Sama sepertiku, dia menjalani kursus bahasa di Goethe, sebelum berangkat ke Jerman, namun bedanya dia menjalani kursus di Goethe Surabaya (logat Surabaya terdengar kental setiap dia berbicara) selama sekitar dua bulan lebih. Ada satu hal yang cukup menarik di kelasku, hampir separuh dari kami berencana menempuh studi di bidang kedokteran. Ada aku, Areen, Haytham (cowok cerdas dari Palestina), Mohammed (Yaman), dan lain-lain, termasuk Vivin! Well das finde ich toll! Menurutku, ini akan jadi kelas yang menyenangkan, a bunch of tough guys who have the same purpose, gathering in a class, along with another people from Korea (Nari, cewek yang terlihat masih muda, namun dia telah menyelesaikan program pascasarjana dan disini dia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan program doktoral, cukup cerdas, namun logatnya -maaf- lucu).

Satu hal lagi, beberapa hari terakhir ini aku gencar browsing di internet untuk mencari seorang tandem, sprachtandem, sprachaustausch, atau apalah yang orang sebut, yang jelas sprachtandem adalah seorang parter bahasa, jadi dua orang yang berkumpul, kemudian mereka saling bertukar bahasa, sebagai contoh, tandem antara orang Jerman dan Indonesia, orang Jerman mengajarkan bahasa Jerman, dan begitu pula sebaliknya. Dan sekarang aku telah menemukan salah seorang tandem, orang Jerman yang menempuh kuliah di Humboldt Uni Berlin, namun sekarang kita masih saling kontak melalui pesan dan berencana akan bertatap muka langsung minggu depan.

Well I think that’s all for now, I will be back with.. much more story to be shared..

sebagai penutup, mungkin aku akan post salah satu lagu dari band Inggris yang masih jarang terdengar (karena mereka masih belum meraih major label) called Thirteen Senses, but their song is so awesome dan aku langsung suka ketika pertama kali mendengarnya, plus, cover album mereka, yang (bagiku) cukup eye-catching, ini dia salah satu lagu mereka:

Into The Fire

Come on, come on
Put your hands into the fire
Explain, explain
As I turn I meet the power
This time, this time
Turning white and senses dire
Pull up, pull up
From one extreme to another

From the summer to the spring
From the mountain to the air
From Samaritan to sin
And its waiting on the air

Come on, come on
Put your hands into the fire
Explain, explain
As I turn I meet the power
This time, this time
Turning white and senses dire
Pull up, pull up
From one extreme to another

From the summer to the spring
From the mountain to the air
From Samaritan to sin
And its waiting on the air

Now I’m low I’m looking out, I’m looking in
Way down, the lights are dimmer
Now I’m low I’m looking out, I’m looking in
Way down, the lights are dimmer

Ooooh

Come on, come on
Put your hands into the fire
Come on, come on

Neujahr im Botschaft

•2. January 2010 • Leave a Comment

Siang ini, matahari bersinar terang dan aku masih mengurung diri di dalam kamar. Bukan karena apa-apa, ingin rasanya aku pergi jalan-jalan, namun tebalnya salju diluar membuatku malas. Salju masih turun, suhu mencapai -2 grad Celsius di siang hari dan -6 grad di malam hari. It is not really bad tho’, we still got much time for a deadly winter. Well, ini hari kedua di tahun yang baru, 2010. And the most interesting topic will be the new year’s party, here we call it Silvesterparty. I don’t have many choices for this. Jadi tahun ini aku merayakan malam pergantian tahun bersama teman-teman orang Indonesia di Berlin (dan bahkan ada beberapa orang yang datang dari luar Berlin, khusus untuk menghadiri acara ini). Acara ini utamanya diperuntukkan kepada bapak-bapak dan ibu-ibu pegawai kedutaan beserta putra-putrinya. Namun banyak juga para pelajar seumuranku (dan mayoritas diatasku) yang hadir. Dan ada suguhan yang menarik untuk kami para kawula muda, yakni performance band, acoustic, dan operet yang dipersembahkan oleh para personel PPI. Band yang tampil cukup bagus, dan apabila melihat dari singkatnya waktu persiapan mereka, performance tersebut sangatlah bagus. Dan performance terakhir, Operet. It was worth seeing. Berdurasi sekitar 11 menit dan dimainkan oleh para pelajar yang tergabung dalam PPI (Benji, Kirena, Iko, Husein, dkk), tema operet tersebut sangat cocok dengan kehidupan para remaja, para pelajar yang merantau, pergi jauh meninggalkan keluarga -dan tentunya, pacar- demi masa depan yang (insyaAlloh) lebih cerah. Tokoh utama operet tersebut adalah Benjamin Mario, atau akrab disapa Beni (Benji). Ceritanya, dia berangkat dari Jakarta menuju Berlin untuk mencari ilmu, dan dia harus berpisah dengan sang kekasih untuk sementara waktu (disini diperankan oleh Kirena, yang tak lain adalah pacarnya sendiri). Ketika menjalani sekolah, Beni mendapat surat dari sang kekasih which told that she really missed him. So then he decided to go back home (sebenarnya yang ada di kepalaku ketika scene ini adalah lagu Next Plane Home dari Daniel Powter, sebuah lagu yg cukup romantis, mengingatkanku pada seseorang yang menulis beberapa bait lagu ini di lewat sms beberapa saat menjelang keberangkatanku ke Berlin, namun kru operet memilih lagu lain, tak apalah, ini hanya masalah selera musik dan memori masa lalu). Ironisnya ketika dia sampai di Jakarta, dia menemui bahwa kekasihnya sekarang telah memiliki tempat di hati pria lain. Pernikahan telah dilaksanakan. Well, Beni sedih namun beberapa teman menghiburnya, whatever happens, life must go on, and God put a smile upon our faces.

Mungkin hanya itu acara yang cukup berarti. Selebihnya, acara di-handle oleh orang-orang tua pengurus KBRI. Kalau aku boleh komentar sedikit kurang enak di telinga, cara mereka orang-orang tua dalam menghandle dan mempersiapkan acara cukup menyedihkan, kualitas mereka tak lebih dari orang-orang yang merayakan tahun baruan di kampung. Bahkan dengan sokongan dana yang boleh dibilang sangat cukup, mereka bekerja layaknya orang yang tak pernah mengenyam pendidikan apapun selain baca tulis dan berbicara. Moment paling penting dan justru paling mengecewakan adalah countdown menjelang pergantian tahun. Perhitungan mundur dilakukan oleh MC dan tidak ada bantuan dengan adanya semacam film atau video countdown. Padahal hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit untuk membuat video countdown. Alhasil, beberapa dari kami (termasuk aku, temanku Wicaksana, dan Irena -cewek dari Rusia yang berpacaran dengan salah seorang teman dari Indonesia- )masih sibuk mengambil makanan ketika MC tiba-tiba berteriak “5,4,3,2,1″. It’s embarrassing. But afterall, it was still an “OK” event. Hopefully next time it will be a better show.

Sepulang dari acara di KBRI, kami beramai-ramai berjalan kaki menuju studenten wohnheim (apartemen khusus pelajar) salah satu dari kami. Sepanjang perjalanan, salju turun dengan derasnya dan suasana tahun baru masih saja terasa di jalan-jalan. Suara kembang api dan petasan masih saja terdengar, dan jumlah orang-orang yang berkeliaran di jalan masih saja banyak, walaupun sudah mencapai dini hari waktu setempat. Suhu udara yang luarbiasa dingin pun tak menyurutkan niat kami untuk bermain dan bercanda, ditambah adanya faktor mendukung yang bertabur dipinggir jalan, pagar, pohon, dan bahkan kursi taman sekalipun, yakni : salju. Sepanjang jalan kami main lempar salju layaknya anak kecil – terutama aku. Well I don’t really care cos it is my first snow, and I’m still 18. At least I’m still young enough. Di kamar wohnheim salah seorang teman, kami bermain UNO, permainan kartu yang sangat populer saat ini dan juga sering aku mainkan terutama ketika bersekolah selama 2 bulan lebih di Goethe Institut Jakarta. Kami akhirnya pulang jam 6 pagi. Sesampainya di rumah, rasa kantuk dan lelah tak tertahankan dan kami pun akhirnya tertidur pulas.

Esperanto : a neutral language.

•23. December 2009 • 1 Comment

Selama beberapa hari terakhir, butir-butir salju menerpa wajahku setiap kali aku berjalan menuju sekolah. Berlin memutih. Suhu diluar berkisar antara -7 hingga -15 derajat Celsius. Alhamdulillah tidak lebih parah daripada Rusia yang di beberapa kota suhu mencapai -30 derajat Celsius. Topik diskusi kami para pelajar di Hartnackschule dalam beberapa hari ini adalah tentang Zukunftprognose. Cukup menarik. Apalagi setelah beberapa hari sebelumnya aku merasa sedikit jenuh karena topik bahasan di sekolah adalah politik, dan sepulang dari Hartnackschule, topik obrolan di rumah juga tentang PPI dan tidak jauh dari dunia politik (yang kata Iwan Fals, “dunia politik: dunia bintang, dunia pesta pora para binatang berjoget dengan asik”). Well, back to the topic, about Zukunftprognose (Zukunft=Future). Masing-masing dari kami membuat suatu draf kemudian mempresentasikan kepada teman-teman dan pengajar, bagaimana pandangan kami masing-masing dari kami tentang masa depan.

Satu hal yang cukup menarik, dan sampai membuatku terpaku di depan layar monitor untuk browsing mencari sumber data-data adalah ketika Herr Krüger, pengajar kami, menanggapi salah satu presentasi tentang impian dunia di masa depan dimana tiada lagi batas antar negara, dan seluruh umat manusia saling berbagi, sebuah kehidupan yang harmonis, (walaupun mungkin hanyalah sebuah utopia, sebuah bayangan imajiner yang memberikan sedikit optimisme di tengah rasa pesimis dan keadaan krisis di segala bidang yang melanda sebagian besar negara di dunia) seperti yang disampaikan oleh John Lennon dalam lagunya yang berjudul Imagine. Well, satu keyword penting mengenai tanggapan Herr Krüger adalah “Esperanto”.

Then what the hell is Esperanto? A new kind of coffee? Just like cappuccino, caffé macchiato, and espresso? No. Definitely not. Esperanto, according to the most famous online encyclopedia in the world wikipedia, is a constructed international auxiliary language. Dipelopori oleh seorang Rusia, Dr. Ludovic Lazarus Zamenhof pada akhir abad ke 19, Esperanto sekarang telah berkembang hingga sekarang diperkirakan mencapai 2 juta pemakai, walaupun sampai sekarang tidak ada satupun negara di dunia yang memakai Esperanto sebagai bahasa resmi, namun perkembangan Esperanto sebagai bahasa global cukup signifikan. Menurut salah satu website “official” yang didirikan oleh para pemakai bahasa tersebut, Esperanto sangat bermanfaat untuk berkomunikasi antara personal yang tidak memiliki “mother-tongue” yang sama. Sebagai contoh, antara bangsa Asia timur dan Slavia (Rusia, dll, yang kata salah seorang teman dari Rusia, memiliki 3 macam konsonan “G” dengan pengucapan yang berbeda). Dan, walaupun aku masih belum mempelajari (karena masih merasa belum perlu untuk mempelajari) bahasa Esperanto, namun beberapa sumber mengatakan bahwa Esperanto adalah bahasa yang relatif mudah untuk dikuasai dan digunakan, karena secara gramatik lebih simpel daripada bahasa lain, serta mayoritas kosakata diambil dari induk bahasa Romance (Latin) yang tanpa kita ketahui telah kita gunakan sehari-hari dan secara global (Contoh: Radio, semua orang tahu dan hampir semua bahasa menggunakan istilah yang sama untuk benda yang kita kenal dengan nama “Radio”). Patut untuk diikuti bagaimana perkembangan bahasa Esperanto, tak hanya karena latar belakang Dr. Zamenhof yang tumbuh di sebuah kota kecil dengan empat elemen masyarakat berbeda (Russians, Poles, Germans and Jews) diantara mereka menggunakan bahasa golongannya masing-masing dan memandang satu sama lain (yang berbeda golongan) sebagai musuh, juga karena tujuannya yang baik, menciptakan equality diantara umat manusia.

Well thats all about our recent topic. Dan sedikit ingin berbagi pengalaman, disini aku merasakan bagaimana rasanya menjadi minoritas. Sama seperti di Indonesia ketika bulan Ramadhan, acara televisi yang berbau Islami memenuhi televisi. Di sini, hampir semua acara berbau Weihnachten (Natal) bahkan mulai beberapa minggu sebelumnya. Dan di hari Jumat lalu, unterricht (KBM) berlangsung setengah dari waktu biasanya. Selebihnya, kami berkumpul bersama, jamuan ramah tamah di kelas yang disulap sedemikian rupa, sehingga di tengah terdapat makanan-makanan kecil dan minuman (yang untungnya bukan beralkohol). Kami makan dan bercakap-cakap, diiringi lagu Nat King Cole yang mengalun dari speaker di dalam kelas. Ada yang menarik dari kegiatan ini, yakni ketika masing-masing dari kami menuliskan kata Frieden (Peace) dalam bahasa ibu kami masing-masing. Dan kata “Damai” bersanding dengan kata “Bariş”, “Peace”, “سلام”, dan kata damai dalam bahasa-bahasa lainnya.

Latihan Dasar Kepemimpinan (PPI Berlin) 2009

•16. December 2009 • Leave a Comment

Sabtu, 12. Dezember 2009

Seperti hari-hari biasa, aku terbangun oleh suara alarm dari handphone-ku yang kali ini sengaja aku atur lebih mundur karena waktu sholat subuh yang juga makin mundur. Ada yang berbeda di hari Sabtu ini. Kalau akhir pekan biasanya aku habiskan dengan menatap layar laptop atau membaca buku atau nonton teve sepanjang hari, kali ini aku mengikuti acara yang diadakan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Berlin bertajuk LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan). Pada awalnya, aku kurang begitu tertarik mendengar judul acara PPI tersebut karena teringat masa-masa kelam yang aku alami selama duduk di bangku SMA. Tetapi salah satu teman di Berlin (yang juga anggota PPI) meyakinkanku untuk ikut acara ini dan dia mengatakan bahwa acara ini jauh dari kesan kurang baik yang dimiliki sebagian besar pelajar Indonesia (tak perlu kujelaskan, kalian pasti paham).

So, aku berangkat ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia, dimana acara tersebut diselenggarakan) pukul 9 pagi, sehingga aku bisa sampai ke KBRI pada pukul 9.30 (estimasi waktu yang aku perkirakan terbukti tepat) dan aku masih punya waktu 30 menit untuk mendaftar ulang dan berbincang-bincang dengan para pengisi acara, para panitia, dan berkenalan dengan para pelajar dari Indonesia yang juga mengikuti acara tersebut.

Menurut jadwal, acara dimulai pukul 10, tetapi karena panitia dan peserta semua adalah orang Indonesia, maka, seperti biasa, acara molor dan akhirnya dimulai pukul 10.30. Khas Indonesia. Acara diawali dengan sambutan dari Duta Besar Indonesia untuk Jerman (yang dengan sukarela menyempatkan diri ditengah kesibukan beliau yang mempersiapkan kedatangan presiden SBY ke Berlin) dan atase pendidikan. Kemudian dilanjutkan dengan materi tentang retorika, atau lebih populer disebut pidato, yang juga disampaikan oleh Pak Dubes.

Materi kedua adalah tentang Project Management. Diawali dengan assessment atau semacam quiz singkat mengenai pandangan kita akan project management, materi ini disampaikan oleh dua orang yang sedang mengambil program master di Berlin. Pak Novian, orang Indonesia, didampingi oleh rekannya, Mr. Yazan, dari Jordania, seorang business consultant yang juga sedang mengambil program master. Pak Novian menjelaskan tentang dasar-dasar project management, kemudian dilanjutkan oleh Mr. Yazan, yang menyampaikan materinya dalam bahasa Inggris. Bagusnya, karena ini adalah forum bebas, terjadi diskusi menarik antara participant dan fasilitator, atau pemateri. Dan yang cukup menarik buatku adalah tentang pelaksanaan project di negara-negara maju (Jerman, US, Kanada, dll). Dan topik ini dimasukkan ke dalam salah satu soal di quiz yang kurang lebih seperti ini : proyek-proyek di negara maju hampir selalu on time dan within budget. Well, menurut perspektifku selama ini, aku jawab bahwa hal tersebut adalah benar. Sebagian besar peserta juga berpikiran sama. Namun fakta berbicara lain. Mr. Yazan, yang juga memiliki data statistik lengkap, menyampaikan bahwa “Less than 34 % projects in USA and Europe finished on time and within budget”. Salah satu rekan panitia yang juga memiliki pengalaman kerja ikut menambahkan bahwa proyek Airbus-pun kerap kali molor berbulan-bulan dari jadwal dan memakan biaya diatas budget awal. Kemudian Mr. Yazan melanjutkan bahwa ada satu hal yang tak kalah penting, bahwa successful project tidak hanya diukur dari ketepatan waktu dan biaya, namun juga customer satisfaction, sesuai dengan pertanyaan quiz yang pertama,untuk hal ini, memang sudah aku pikirkan sejak awal.

Well, materi selanjutnya, yang disampaikan oleh seorang dosen Unibraw yang sedang mengambil program S3 di Potsdam, yang juga sudah aku kenal dengan baik beberapa hari sebelumnya, adalah mengenai organisasi. Materi ini seharusnya termasuk materi inti, namun yang patut disayangkan, alokasi waktu untuk materi ini sangat sedikit, sehingga yang disampaikan materi hanya berkisar pada permukaan.

Di acara ini juga terdapat banyak games yang menguji kemampuan peserta untuk bekerjasama. Salah satu game yang menarik adalah ketika masing-masing kelompok disediakan 50 sedotan. Dengan sedotan itu, kami diharuskan untuk mendirikan sebuah bangunan, yang syaratnya : kokoh (tidak roboh ketika ditiup), dan logis (peserta harus bisa menjelaskan bahwa yang mereka dirikan adalah sebuah bangunan). Hanya 10 menit waktu yang bisa disediakan. Dan kami memutuskan untuk mendirikan miniatur kilang minyak lepas pantai. Namun sayangnya bangunan yang kami dirikan kurang kokoh. Well, at least we’ve made something logical.

Yang tak kalah menarik adalah studi kasus. Masing-masing dari kelompok mendapat sebuah amplop, dalam amplop tersebut terdapat kertas yang tertulis nama sebuah event, sasaran event, tujuan yang ingin diperoleh dari kegiatan tersebut, dan syarat-syarat yang lainnya. Kami diharuskan untuk merencanakan sebuah kegiatan, (membuat sebuah proposal, format acara, time-table, beserta estimasi biaya dan slide presentasi) dan seluruh poin yang tercantum di kertas harus tercakup dalam kegiatan tersebut. Di akhir, salah satu dari kami harus maju dan mempresentasikan acara kami menggunakan beamer (proyektor), serta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul baik dari peserta, panitia, maupun juri. Waktu total yang dialokasikan adalah 1,5 jam, dan presentasi hanya 10 menit. Cukup singkat. Dalam kegiatan ini aku diminta teman-teman satu kelompok untuk mempresentasikan kegiatan kami, dan hasilnya lumayan.

Sesuai jadwal, di akhir acara, 2 orang panitia menyanyikan sebuah lagu untuk penutupan acara. Salah satu dari juri mengatakan kepada ketua PPI untuk mengajak seluruh peserta dan seluruh orang yang berada dalam ruangan (termasuk panitia) untuk bernyanyi bersama. Judul lagunya : Kemesraan, ciptaan Franky Sahilatua. Tak lama, kami semua berdiri dan membentuk sebuah lingkaran besar dan tangan kami saling merangkul. Kami bernyanyi bersama, teriak, dan tertawa bersama. Benar-benar diluar skenario acara. Disini sangat terasa kekompakan dan suasana kekeluargaan diantara kami, yang bahkan sebagian besar baru berkenalan ketika acara ini dimulai. Benar apa yang pernah disampaikan oleh ketua PPI di salah satu kesempatan, bahwa PPI bukan hanya sebuah organisasi, melainkan lebih pantas disebut sebagai sebuah keluarga besar, beranggotakan manusia-manusia yang memiliki dedikasi dan semangat yang tinggi, yang rela untuk jauh meninggalkan keluarga dan tanah air, hanya untuk mencari ilmu.

Finally, an update!

•10. December 2009 • Leave a Comment

So, in this post I wanna apologize cos its been a while since I wrote my last post. Well actually since these days many things happened. But I think I will make it short. Cos now I don’t really have too much time. Jadi dua minggu lalu, hari Kamis, 3. Dezember 2009, aku berhasil mendapat Zertifikat Deutsch. No one knows that I’m going to take the test but me and my cousin. I don’t want to tell anybody cos I’m pretty sure, if I told someone, many people will give me support and the result is : it’ll be a lot of pressure on me. So I decided not to tell anyone. And it’s true, ich habe bestanden, obwohl ich nicht so gut ergebnis bekommen habe. -I’ve passed the exam, although I got only a “satisfactory” result-. Soon as I got my certificate, I went to Dori (my relative)’s house and I told her that I’ve passed the exam. She seemed happy to hear that and said, “das ist gut, du hast gut gemacht” -that’s good, you’ve done well-, “even you haven’t entered the class B1 yet, but you passed the exam”, she added. Gott sei Dank. Thank God. Alhamdulillah. And just a few days after I got that certificate, I decided to take the placement test. I wanted to take the higher level cos I thought the class currently I was in was so slow and a bit boring. And I passed the test. So now I’m in B1.

The next topic is about my last weekend. Well it’s quite exciting. We (my cousin and I) saw a music concert in Columbiahalle, nur viertel std. von Innsbrucker Platz. Just quarter an hour from Innsbrucker Platz, the place where my cousin stays. The band is called Paramore. Well it’s quite famous among teenagers. They wrote the soundtrack of a famous box office movie (which is based on a best-seller novel, Twilight). Film tersebut digandrungi remaja-remaja, mantan teman-teman SMA-ku dan bahkan para mahasiswa. And ironically I don’t like both the novel and the movie at all, überhaupt nicht, karena kisah tersebut sangat remaja dan temanya sangat murahan. Well that’s enough about the movie and now we turn our focus on the music. Di konser tersebut, mereka tampil sederhana (semua memakai kaos oblong), dan tata panggungnya pun sederhana. Banyak dari penonton bahkan berpenampilan lebih “wah” dari para personel Paramore. Tapi penampilan biasa bukan berarti permainan musik yang biasa pula. Musik pop-rock khas Amerika yang menghentak disertai suara vokal Hayley Williams yang kuat dan khas pula. We’re all satisfied. Mari kita bandingkan dengan band Indonesia (walaupun tidak semua, namun sebagian besar) yang lebih mengutamakan penampilan fisik daripada performance, dan yang paling jelas adalah Changcuters, tampil selalu berseragam dan selalu tampil beda, namun performance nol besar.

Well, talking about music concert, I have a dream concert in my head. I got a dream, suatu hari, Coldplay mengadakan konser di Old Trafford. Dan aku duduk di barisan terdepan. Wow, such a great moment will that be.