Seperti beberapa hari terakhir, salju hari ini turun deras dan suhu diluar mencapai kisaran -15. It’s damn cold. Well I got a real good topic this time. It’s mainly about an “austellung” (Deutsch, which means exhibition) called Internationale Grüne Woche (International Green Week), yang diselenggarakan di Berlin, sekali tiap tahun, mulai tanggal 15 hingga 24 Januari. Grüne Woche, begitu pameran ini akrab disebut, adalah sebuah pameran yang mempertunjukkan (terutama) sajian masakan dari seluruh dunia. Masih ada lagi selain masakan, yakni di bidang pertanian, perkebunan, dan peternakan. Dilihat dari namanya, pameran ini mengajak kita untuk kembali pada alam, sebuah dunia yang hijau yang telah eksis di Bumi ini bahkan sebelum manusia modern mendirikan bangunan pertama, yang nampaknya sudah mulai terlupakan, secara ironis tergantikan posisinya oleh bangunan-bangunan megah nan mewah.
Mengunjungi pameran ini juga merupakan salah satu bagian dari program studi di Hartnackschule, sekolah bahasa dimana aku berada sekarang. It’s called an “Exkursion”, where we must go outdoor and socialize with people. Cos we need language to communicate, not only written but also orally. We went to this exhibition on Friday morning, a week ago. Our teacher said we should go on Friday instead of Saturday, cos there’ll be too crowded, a lot of people on weekend and we can’t possibly enjoy it. Event ini benar-benar menarik perhatian banyak orang sehingga kami tidak punya pilihan lain selain berada disana setengah jam sebelum gedung pameran dibuka. Sekitar jam 9.30 pagi. Dan benar saja, ketika kami datang, sudah ada orang mengantre didepan loket untuk membeli tiket masuk yang bahkan tidak terlalu murah untuk orang Jerman sendiripun (€ 12 harga normal, dan khusus pelajar, kami mendapat keringanan biaya, sehingga kami hanya perlu membayar € 7)
Banyak negara ikut berpartisipasi dalam acara ini, sebutlah Russia, Üngarn (Hungaria), Norwegia, Italia, Swiss, Austria, Belanda, Rep. Ceko, Slovakia, USA, Kanada, Inggris, Turki, Arab, Iran, Lebanon, China, Jepang, bahkan Vietnam dan Thailand, dan masih banyak yang lainnya (bahkan beberapa negara dari Afrika dan Amerika Latin pun ikut ambil bagian dalam event akbar ini). One thing that probably a bit dissappointing is, I couldn’t find any Indonesian foods there. Wie schade, I couldn’t remember the names of those dishes. One that I could easily remember was Yoghurt mit Walnuss from Dänemark (Denmark). Semua negara bebas mendesain tempatnya sendiri-sendiri. Bahkan di bagian domestik, tiap-tiap Bundesland (sebutan untuk negara bagian) mendapat tempat tersendiri. Semuanya menonjolkan budayanya masing-masing. Yang cukup menarik adalah di bagian negara Belanda, dimana terdapat kincir angin raksasa, berdiri kokoh di pojok salah satu ruangan. Perlu diketahui, pameran ini bertempat di Messegelände, yang terdiri dari puluhan ruangan seukuran empat (atau mungkin enam) kali lapangan basket dan tersambung menjadi satu. Bahkan tidak hanya satu tingkat, melainkan tiga tingkat. Bisa dibayangkan betapa luas kompleks Messegelände (yang nampaknya dilihat dari namanya, Messe yg berarti pameran, didirikan khusus untuk even-even eksibisi bertaraf internasional) ini.
Tak kalah menarik, Hungaria, yakni mengenai salah satu kota mereka bernama Pécs, sebuah kota kecil di lereng pegunungan Mecsek di bagian selatan Hungaria, dekat dengan perbatasan antara Hungaria dan Kroasia. Kota penuh nilai sejarah yang pada tahun 2010 terpilih sebagai Kulturhaupstadt Europas (Ibukota budaya Eropa). Ada banyak informasi yang mereka sediakan berkaitan dengan kota ini. Termasuk video yang mempertontonkan bangunan-bangunan dan pemandangan di kota mereka. Well, intinya adalah, di pameran ini banyak negara berkompetisi untuk memajukan tourism negaranya masing-masing. But that’s not bad at all. Dari sini kita bisa mengetahui banyak budaya negara lain, dan juga menjadi referensi untuk liburan mendatang (yang memang aku rencanakan untuk kota-kota kecil, untuk menghemat biaya, dan salah satu syaratnya adalah: kota tersebut harus memiliki nilai sejarah tinggi). Selain masakan, aku juga mengunjuni bagian pertanian, peternakan, dan perkebunan (untuk bagian yang disebutkan terakhir, aku yakin 100 persen ayahku akan menghabiskan waktu tak kurang dari satu jam disana). Namun aku kurang begitu tertarik, so aku tidak bisa bercerita banyak tentang mereka. Overall, it was super cool. I was there for about 4 hours and I tried many dishes from the countries throughout the world.

































































comments..