Selama beberapa hari terakhir, butir-butir salju menerpa wajahku setiap kali aku berjalan menuju sekolah. Berlin memutih. Suhu diluar berkisar antara -7 hingga -15 derajat Celsius. Alhamdulillah tidak lebih parah daripada Rusia yang di beberapa kota suhu mencapai -30 derajat Celsius. Topik diskusi kami para pelajar di Hartnackschule dalam beberapa hari ini adalah tentang Zukunftprognose. Cukup menarik. Apalagi setelah beberapa hari sebelumnya aku merasa sedikit jenuh karena topik bahasan di sekolah adalah politik, dan sepulang dari Hartnackschule, topik obrolan di rumah juga tentang PPI dan tidak jauh dari dunia politik (yang kata Iwan Fals, “dunia politik: dunia bintang, dunia pesta pora para binatang berjoget dengan asik”). Well, back to the topic, about Zukunftprognose (Zukunft=Future). Masing-masing dari kami membuat suatu draf kemudian mempresentasikan kepada teman-teman dan pengajar, bagaimana pandangan kami masing-masing dari kami tentang masa depan.
Satu hal yang cukup menarik, dan sampai membuatku terpaku di depan layar monitor untuk browsing mencari sumber data-data adalah ketika Herr Krüger, pengajar kami, menanggapi salah satu presentasi tentang impian dunia di masa depan dimana tiada lagi batas antar negara, dan seluruh umat manusia saling berbagi, sebuah kehidupan yang harmonis, (walaupun mungkin hanyalah sebuah utopia, sebuah bayangan imajiner yang memberikan sedikit optimisme di tengah rasa pesimis dan keadaan krisis di segala bidang yang melanda sebagian besar negara di dunia) seperti yang disampaikan oleh John Lennon dalam lagunya yang berjudul Imagine. Well, satu keyword penting mengenai tanggapan Herr Krüger adalah “Esperanto”.
Then what the hell is Esperanto? A new kind of coffee? Just like cappuccino, caffé macchiato, and espresso? No. Definitely not. Esperanto, according to the most famous online encyclopedia in the world wikipedia, is a constructed international auxiliary language. Dipelopori oleh seorang Rusia, Dr. Ludovic Lazarus Zamenhof pada akhir abad ke 19, Esperanto sekarang telah berkembang hingga sekarang diperkirakan mencapai 2 juta pemakai, walaupun sampai sekarang tidak ada satupun negara di dunia yang memakai Esperanto sebagai bahasa resmi, namun perkembangan Esperanto sebagai bahasa global cukup signifikan. Menurut salah satu website “official” yang didirikan oleh para pemakai bahasa tersebut, Esperanto sangat bermanfaat untuk berkomunikasi antara personal yang tidak memiliki “mother-tongue” yang sama. Sebagai contoh, antara bangsa Asia timur dan Slavia (Rusia, dll, yang kata salah seorang teman dari Rusia, memiliki 3 macam konsonan “G” dengan pengucapan yang berbeda). Dan, walaupun aku masih belum mempelajari (karena masih merasa belum perlu untuk mempelajari) bahasa Esperanto, namun beberapa sumber mengatakan bahwa Esperanto adalah bahasa yang relatif mudah untuk dikuasai dan digunakan, karena secara gramatik lebih simpel daripada bahasa lain, serta mayoritas kosakata diambil dari induk bahasa Romance (Latin) yang tanpa kita ketahui telah kita gunakan sehari-hari dan secara global (Contoh: Radio, semua orang tahu dan hampir semua bahasa menggunakan istilah yang sama untuk benda yang kita kenal dengan nama “Radio”). Patut untuk diikuti bagaimana perkembangan bahasa Esperanto, tak hanya karena latar belakang Dr. Zamenhof yang tumbuh di sebuah kota kecil dengan empat elemen masyarakat berbeda (Russians, Poles, Germans and Jews) diantara mereka menggunakan bahasa golongannya masing-masing dan memandang satu sama lain (yang berbeda golongan) sebagai musuh, juga karena tujuannya yang baik, menciptakan equality diantara umat manusia.
Well thats all about our recent topic. Dan sedikit ingin berbagi pengalaman, disini aku merasakan bagaimana rasanya menjadi minoritas. Sama seperti di Indonesia ketika bulan Ramadhan, acara televisi yang berbau Islami memenuhi televisi. Di sini, hampir semua acara berbau Weihnachten (Natal) bahkan mulai beberapa minggu sebelumnya. Dan di hari Jumat lalu, unterricht (KBM) berlangsung setengah dari waktu biasanya. Selebihnya, kami berkumpul bersama, jamuan ramah tamah di kelas yang disulap sedemikian rupa, sehingga di tengah terdapat makanan-makanan kecil dan minuman (yang untungnya bukan beralkohol). Kami makan dan bercakap-cakap, diiringi lagu Nat King Cole yang mengalun dari speaker di dalam kelas. Ada yang menarik dari kegiatan ini, yakni ketika masing-masing dari kami menuliskan kata Frieden (Peace) dalam bahasa ibu kami masing-masing. Dan kata “Damai” bersanding dengan kata “Bariş”, “Peace”, “سلام”, dan kata damai dalam bahasa-bahasa lainnya.































