Selama beberapa hari terakhir, butir-butir salju menerpa wajahku setiap kali aku berjalan menuju sekolah. Berlin memutih. Suhu diluar berkisar antara -7 hingga -15 derajat Celsius. Alhamdulillah tidak lebih parah daripada Rusia yang di beberapa kota suhu mencapai -30 derajat Celsius. Topik diskusi kami para pelajar di Hartnackschule dalam beberapa hari ini adalah tentang Zukunftprognose. Cukup menarik. Apalagi setelah beberapa hari sebelumnya aku merasa sedikit jenuh karena topik bahasan di sekolah adalah politik, dan sepulang dari Hartnackschule, topik obrolan di rumah juga tentang PPI dan tidak jauh dari dunia politik (yang kata Iwan Fals, “dunia politik: dunia bintang, dunia pesta pora para binatang berjoget dengan asik”). Well, back to the topic, about Zukunftprognose (Zukunft=Future). Masing-masing dari kami membuat suatu draf kemudian mempresentasikan kepada teman-teman dan pengajar, bagaimana pandangan kami masing-masing dari kami tentang masa depan.

Satu hal yang cukup menarik, dan sampai membuatku terpaku di depan layar monitor untuk browsing mencari sumber data-data adalah ketika Herr Krüger, pengajar kami, menanggapi salah satu presentasi tentang impian dunia di masa depan dimana tiada lagi batas antar negara, dan seluruh umat manusia saling berbagi, sebuah kehidupan yang harmonis, (walaupun mungkin hanyalah sebuah utopia, sebuah bayangan imajiner yang memberikan sedikit optimisme di tengah rasa pesimis dan keadaan krisis di segala bidang yang melanda sebagian besar negara di dunia) seperti yang disampaikan oleh John Lennon dalam lagunya yang berjudul Imagine. Well, satu keyword penting mengenai tanggapan Herr Krüger adalah “Esperanto”.

Then what the hell is Esperanto? A new kind of coffee? Just like cappuccino, caffé macchiato, and espresso? No. Definitely not. Esperanto, according to the most famous online encyclopedia in the world wikipedia, is a constructed international auxiliary language. Dipelopori oleh seorang Rusia, Dr. Ludovic Lazarus Zamenhof pada akhir abad ke 19, Esperanto sekarang telah berkembang hingga sekarang diperkirakan mencapai 2 juta pemakai, walaupun sampai sekarang tidak ada satupun negara di dunia yang memakai Esperanto sebagai bahasa resmi, namun perkembangan Esperanto sebagai bahasa global cukup signifikan. Menurut salah satu website “official” yang didirikan oleh para pemakai bahasa tersebut, Esperanto sangat bermanfaat untuk berkomunikasi antara personal yang tidak memiliki “mother-tongue” yang sama. Sebagai contoh, antara bangsa Asia timur dan Slavia (Rusia, dll, yang kata salah seorang teman dari Rusia, memiliki 3 macam konsonan “G” dengan pengucapan yang berbeda). Dan, walaupun aku masih belum mempelajari (karena masih merasa belum perlu untuk mempelajari) bahasa Esperanto, namun beberapa sumber mengatakan bahwa Esperanto adalah bahasa yang relatif mudah untuk dikuasai dan digunakan, karena secara gramatik lebih simpel daripada bahasa lain, serta mayoritas kosakata diambil dari induk bahasa Romance (Latin) yang tanpa kita ketahui telah kita gunakan sehari-hari dan secara global (Contoh: Radio, semua orang tahu dan hampir semua bahasa menggunakan istilah yang sama untuk benda yang kita kenal dengan nama “Radio”). Patut untuk diikuti bagaimana perkembangan bahasa Esperanto, tak hanya karena latar belakang Dr. Zamenhof yang tumbuh di sebuah kota kecil dengan empat elemen masyarakat berbeda (Russians, Poles, Germans and Jews) diantara mereka menggunakan bahasa golongannya masing-masing dan memandang satu sama lain (yang berbeda golongan) sebagai musuh, juga karena tujuannya yang baik, menciptakan equality diantara umat manusia.

Well thats all about our recent topic. Dan sedikit ingin berbagi pengalaman, disini aku merasakan bagaimana rasanya menjadi minoritas. Sama seperti di Indonesia ketika bulan Ramadhan, acara televisi yang berbau Islami memenuhi televisi. Di sini, hampir semua acara berbau Weihnachten (Natal) bahkan mulai beberapa minggu sebelumnya. Dan di hari Jumat lalu, unterricht (KBM) berlangsung setengah dari waktu biasanya. Selebihnya, kami berkumpul bersama, jamuan ramah tamah di kelas yang disulap sedemikian rupa, sehingga di tengah terdapat makanan-makanan kecil dan minuman (yang untungnya bukan beralkohol). Kami makan dan bercakap-cakap, diiringi lagu Nat King Cole yang mengalun dari speaker di dalam kelas. Ada yang menarik dari kegiatan ini, yakni ketika masing-masing dari kami menuliskan kata Frieden (Peace) dalam bahasa ibu kami masing-masing. Dan kata “Damai” bersanding dengan kata “Bariş”, “Peace”, “سلام”, dan kata damai dalam bahasa-bahasa lainnya.

Sabtu, 12. Dezember 2009

Seperti hari-hari biasa, aku terbangun oleh suara alarm dari handphone-ku yang kali ini sengaja aku atur lebih mundur karena waktu sholat subuh yang juga makin mundur. Ada yang berbeda di hari Sabtu ini. Kalau akhir pekan biasanya aku habiskan dengan menatap layar laptop atau membaca buku atau nonton teve sepanjang hari, kali ini aku mengikuti acara yang diadakan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Berlin bertajuk LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan). Pada awalnya, aku kurang begitu tertarik mendengar judul acara PPI tersebut karena teringat masa-masa kelam yang aku alami selama duduk di bangku SMA. Tetapi salah satu teman di Berlin (yang juga anggota PPI) meyakinkanku untuk ikut acara ini dan dia mengatakan bahwa acara ini jauh dari kesan kurang baik yang dimiliki sebagian besar pelajar Indonesia (tak perlu kujelaskan, kalian pasti paham).

So, aku berangkat ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia, dimana acara tersebut diselenggarakan) pukul 9 pagi, sehingga aku bisa sampai ke KBRI pada pukul 9.30 (estimasi waktu yang aku perkirakan terbukti tepat) dan aku masih punya waktu 30 menit untuk mendaftar ulang dan berbincang-bincang dengan para pengisi acara, para panitia, dan berkenalan dengan para pelajar dari Indonesia yang juga mengikuti acara tersebut.

Menurut jadwal, acara dimulai pukul 10, tetapi karena panitia dan peserta semua adalah orang Indonesia, maka, seperti biasa, acara molor dan akhirnya dimulai pukul 10.30. Khas Indonesia. Acara diawali dengan sambutan dari Duta Besar Indonesia untuk Jerman (yang dengan sukarela menyempatkan diri ditengah kesibukan beliau yang mempersiapkan kedatangan presiden SBY ke Berlin) dan atase pendidikan. Kemudian dilanjutkan dengan materi tentang retorika, atau lebih populer disebut pidato, yang juga disampaikan oleh Pak Dubes.

Materi kedua adalah tentang Project Management. Diawali dengan assessment atau semacam quiz singkat mengenai pandangan kita akan project management, materi ini disampaikan oleh dua orang yang sedang mengambil program master di Berlin. Pak Novian, orang Indonesia, didampingi oleh rekannya, Mr. Yazan, dari Jordania, seorang business consultant yang juga sedang mengambil program master. Pak Novian menjelaskan tentang dasar-dasar project management, kemudian dilanjutkan oleh Mr. Yazan, yang menyampaikan materinya dalam bahasa Inggris. Bagusnya, karena ini adalah forum bebas, terjadi diskusi menarik antara participant dan fasilitator, atau pemateri. Dan yang cukup menarik buatku adalah tentang pelaksanaan project di negara-negara maju (Jerman, US, Kanada, dll). Dan topik ini dimasukkan ke dalam salah satu soal di quiz yang kurang lebih seperti ini : proyek-proyek di negara maju hampir selalu on time dan within budget. Well, menurut perspektifku selama ini, aku jawab bahwa hal tersebut adalah benar. Sebagian besar peserta juga berpikiran sama. Namun fakta berbicara lain. Mr. Yazan, yang juga memiliki data statistik lengkap, menyampaikan bahwa “Less than 34 % projects in USA and Europe finished on time and within budget”. Salah satu rekan panitia yang juga memiliki pengalaman kerja ikut menambahkan bahwa proyek Airbus-pun kerap kali molor berbulan-bulan dari jadwal dan memakan biaya diatas budget awal. Kemudian Mr. Yazan melanjutkan bahwa ada satu hal yang tak kalah penting, bahwa successful project tidak hanya diukur dari ketepatan waktu dan biaya, namun juga customer satisfaction, sesuai dengan pertanyaan quiz yang pertama,untuk hal ini, memang sudah aku pikirkan sejak awal.

Well, materi selanjutnya, yang disampaikan oleh seorang dosen Unibraw yang sedang mengambil program S3 di Potsdam, yang juga sudah aku kenal dengan baik beberapa hari sebelumnya, adalah mengenai organisasi. Materi ini seharusnya termasuk materi inti, namun yang patut disayangkan, alokasi waktu untuk materi ini sangat sedikit, sehingga yang disampaikan materi hanya berkisar pada permukaan.

Di acara ini juga terdapat banyak games yang menguji kemampuan peserta untuk bekerjasama. Salah satu game yang menarik adalah ketika masing-masing kelompok disediakan 50 sedotan. Dengan sedotan itu, kami diharuskan untuk mendirikan sebuah bangunan, yang syaratnya : kokoh (tidak roboh ketika ditiup), dan logis (peserta harus bisa menjelaskan bahwa yang mereka dirikan adalah sebuah bangunan). Hanya 10 menit waktu yang bisa disediakan. Dan kami memutuskan untuk mendirikan miniatur kilang minyak lepas pantai. Namun sayangnya bangunan yang kami dirikan kurang kokoh. Well, at least we’ve made something logical.

Yang tak kalah menarik adalah studi kasus. Masing-masing dari kelompok mendapat sebuah amplop, dalam amplop tersebut terdapat kertas yang tertulis nama sebuah event, sasaran event, tujuan yang ingin diperoleh dari kegiatan tersebut, dan syarat-syarat yang lainnya. Kami diharuskan untuk merencanakan sebuah kegiatan, (membuat sebuah proposal, format acara, time-table, beserta estimasi biaya dan slide presentasi) dan seluruh poin yang tercantum di kertas harus tercakup dalam kegiatan tersebut. Di akhir, salah satu dari kami harus maju dan mempresentasikan acara kami menggunakan beamer (proyektor), serta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul baik dari peserta, panitia, maupun juri. Waktu total yang dialokasikan adalah 1,5 jam, dan presentasi hanya 10 menit. Cukup singkat. Dalam kegiatan ini aku diminta teman-teman satu kelompok untuk mempresentasikan kegiatan kami, dan hasilnya lumayan.

Sesuai jadwal, di akhir acara, 2 orang panitia menyanyikan sebuah lagu untuk penutupan acara. Salah satu dari juri mengatakan kepada ketua PPI untuk mengajak seluruh peserta dan seluruh orang yang berada dalam ruangan (termasuk panitia) untuk bernyanyi bersama. Judul lagunya : Kemesraan, ciptaan Franky Sahilatua. Tak lama, kami semua berdiri dan membentuk sebuah lingkaran besar dan tangan kami saling merangkul. Kami bernyanyi bersama, teriak, dan tertawa bersama. Benar-benar diluar skenario acara. Disini sangat terasa kekompakan dan suasana kekeluargaan diantara kami, yang bahkan sebagian besar baru berkenalan ketika acara ini dimulai. Benar apa yang pernah disampaikan oleh ketua PPI di salah satu kesempatan, bahwa PPI bukan hanya sebuah organisasi, melainkan lebih pantas disebut sebagai sebuah keluarga besar, beranggotakan manusia-manusia yang memiliki dedikasi dan semangat yang tinggi, yang rela untuk jauh meninggalkan keluarga dan tanah air, hanya untuk mencari ilmu.

So, in this post I wanna apologize cos its been a while since I wrote my last post. Well actually since these days many things happened. But I think I will make it short. Cos now I don’t really have too much time. Jadi dua minggu lalu, hari Kamis, 3. Dezember 2009, aku berhasil mendapat Zertifikat Deutsch. No one knows that I’m going to take the test but me and my cousin. I don’t want to tell anybody cos I’m pretty sure, if I told someone, many people will give me support and the result is : it’ll be a lot of pressure on me. So I decided not to tell anyone. And it’s true, ich habe bestanden, obwohl ich nicht so gut ergebnis bekommen habe. -I’ve passed the exam, although I got only a “satisfactory” result-. Soon as I got my certificate, I went to Dori (my relative)’s house and I told her that I’ve passed the exam. She seemed happy to hear that and said, “das ist gut, du hast gut gemacht” -that’s good, you’ve done well-, “even you haven’t entered the class B1 yet, but you passed the exam”, she added. Gott sei Dank. Thank God. Alhamdulillah. And just a few days after I got that certificate, I decided to take the placement test. I wanted to take the higher level cos I thought the class currently I was in was so slow and a bit boring. And I passed the test. So now I’m in B1.

The next topic is about my last weekend. Well it’s quite exciting. We (my cousin and I) saw a music concert in Columbiahalle, nur viertel std. von Innsbrucker Platz. Just quarter an hour from Innsbrucker Platz, the place where my cousin stays. The band is called Paramore. Well it’s quite famous among teenagers. They wrote the soundtrack of a famous box office movie (which is based on a best-seller novel, Twilight). Film tersebut digandrungi remaja-remaja, mantan teman-teman SMA-ku dan bahkan para mahasiswa. And ironically I don’t like both the novel and the movie at all, überhaupt nicht, karena kisah tersebut sangat remaja dan temanya sangat murahan. Well that’s enough about the movie and now we turn our focus on the music. Di konser tersebut, mereka tampil sederhana (semua memakai kaos oblong), dan tata panggungnya pun sederhana. Banyak dari penonton bahkan berpenampilan lebih “wah” dari para personel Paramore. Tapi penampilan biasa bukan berarti permainan musik yang biasa pula. Musik pop-rock khas Amerika yang menghentak disertai suara vokal Hayley Williams yang kuat dan khas pula. We’re all satisfied. Mari kita bandingkan dengan band Indonesia (walaupun tidak semua, namun sebagian besar) yang lebih mengutamakan penampilan fisik daripada performance, dan yang paling jelas adalah Changcuters, tampil selalu berseragam dan selalu tampil beda, namun performance nol besar.

Well, talking about music concert, I have a dream concert in my head. I got a dream, suatu hari, Coldplay mengadakan konser di Old Trafford. Dan aku duduk di barisan terdepan. Wow, such a great moment will that be.

It’s already 21.37, the clock is ticking, and I must write something rite now. Well, tomorrow is Al-Adha and all my Indonesian pals here are asleep. So now I can write this post in a silence, in a loneliness (and I really like it). Accompanied by a song by Nidji called Shadows (one of the song that makes Indonesia known throughout the world, cz they’ve made it as the soundtrack of a famous TV Series, Heroes), I gathered all the memories in the past few days, since Saturday 22 November, the day when I post a song by Oasis called The Masterplan (and this song really has a good lyric, bravo Noel Gallagher!).

Fine, now lets get into our first topic, the last weekend. It was a pretty nice (and tiring, as well) weekend. In the morning, I was in a sporthalle, playing indoor football with my Indonesian pals here. 5 x 5 people, and I scored only 1 goal. Too bad. Then after a football game, we played badminton. Cuz someone asked me if I could play badminton, and I said yes (well it was stupid, cz I was tired already at that time). Then, after the game, I went with my roommate, Husein, to have breakfast, which I couldn’t wait any longer, I was starving after a tiring game. We went to a lebanonese restaurant, El-Reda, this is his favourite restaurant (I know it from the way he told me). Well at least I have met a new dish named “Kubideh” which is plate of bastami rice (from India) and a big portion of lamb. Phew, dari lapar yang tak tertahankan, mendadak jadi kenyang. Puas.

Dan malamnya, aku bermain lagi, kali ini bersama teman-temanku di Hartnackschule. Kita janji berkumpul di depan sekolah karena Hasan (EO acara ini) menemukan Sporthalle, atau tempat untuk bermain Futsal, di Fehbelliner Platz, masih termasuk bezirk (region) Schöneberg, satu wilayah dengan sekolah bahasa kami. Dan untuk menuju ke tempat tersebut dari stasiun dekat sekolah, hanya cukup sekali naik U-Bahn (subway). Rencana awal kami berkumpul pukul 18.00 local time. But I just got home from Karstadt Sports (untuk membeli celana futsal) at 17.30 and I must do the Maghrib prayer first. Jadi aku berangkat dari rumah pukul 17.45. Normally it will take 20-25 minutes by bus. But I took the S-Bahn instead if bus (although I had to change 3 times and ran fast everytime I changed to another train), it doesn’t matter, cuz I wanna save my country’s name. Dan ternyata benar, aku sampai lebih cepat dari yang kuperkirakan, tepat pukul 18.00 aku sampai di depan Hartnackschule. Disana sudah menunggu beberapa teman-temanku. Ezra dari Kanada, Michael dari USA, Hasan dari Turki, dan 2 orang saudara Hasan (orang Jerman keturunan Turki). Dan, alhamdulillah, aku sampai tepat waktu, karena tepat 5 menit setelahnya si Kanada dan Amrik mulai menggerutu, yeah I know, they’re always on time. “Hey where is the others? Oh scheiße! (sh*t, dlm bahasa Jerman)”. “Yeah that guy, Anas always comes late”. “Yeah, and that guy from Africa, I dunno, Benin or something? He always comes late..”. Mereka mengomentari beberapa temanku yang datang terlambat, Anas, Russian-born clever guy, but grew up in Jordan, so he can speak both Russisch und Arabisch (plus Deutsch und Englisch); dan Jean-marie, si kulit hitam bongsor yang bahkan belum genap berumur 18 tahun. Logat Prancisnya kadang muncul ketika dia berbicara dalam bahasa Jerman, lucu.

Finally we went to the place where we were supposed to play fußball. Well the place is quite big, modern, and clean. But it’s damn expensive, we have to pay € 70 for an hour, so each of us paid around € 8. Well but the place is good enough for the price. And I scored the first goal just seconds after the kick-off. The whole game, I scored more than 7 goals. Not bad. After the game, we went to a cafe nearby. Half of us are Moslems, but I’m the only one who didn’t drink alcohol. Well, most of us drink beers, except Anas and I. Awalnya aku berharap ada yang menemaniku untuk tidak minum alkohol. Dan ternyata dia memesan margarita, minuman beralkohol dari meksiko yang jauh lebih kuat dari bir. Dan aku pun memesan heiße schokolade (coklat panas). Kali ini bukan kopi, yang berusaha aku kurangi, karena minuman favoritku yang lain, yang mulai benar-benar kusukai ketika hidup disini, Cola, ternyata mengandung caffeine, sehingga aku simpulkan bahwa aku ketagihan caffeine, dan sekarang berusaha aku kurangi dengan banyak-banyak minum mineralwasser. Dan aku juga memesan spaghetti bolognese. Sama seperti yang biasa kita temui di KFC atau McD di Indonesia, namun dengan porsi 3-4 kali lebih banyak. Dan aku habiskan tanpa ada sisa sedikitpun. Hingga Michael yang duduk disebelahku berkata “Wow, you must be very hungry, haha”. And I just say “Hell, yeah!”. Entah mengapa, porsi makanku disini meningkat drastis. Suatu ketika aku makan di KFC bersama sepupuku dan kami memesan paket Bucket dengan 6 potong ayam dan 2 bungkus Pommes frites (French fries). Masing-masing dari kami makan 3 potong ayam and I feel OK. Great. Dan yang membuatku lebih heran, sepupuku di Indonesia menulis di wall facebook di profilku dan mengatakan bahwa aku nampak lebih kurus, unglaublich, unbelievable.

Well, now we’re on the second topic, about the Exkursion. Exkursion adalah salah satu program pembelajaran di Hartnackschule, dimana kami diwajibkan untuk aktif di luar dan menggunakan Deutsch dalam suasana yang lebih rileks. Dan di exkursion kali ini, kami mengunjungi Zoologischer Garten, kebun binatang. Sehari sebelumnya, kami sudah diberi tugas untuk memilih salah satu jenis hewan, untuk kemudian kami presentasikan ketika exkursion di Zoo (So, kami berjalan bersama mengunjungi semua jenis hewan, dan ketika salah satu dari kami sampai pada hewan pilihannya, maka dia harus mempresentasikan tentang hewan tersebut di depan banyak orang. Dan hewan yang aku pilih adalah Panda. Dua kalimat terakhir yang nampaknya merupakan fakta yang menyedihkan, dan menarik bagi mereka. Aku menyampaikan bahwa hanya ada 2500 Panda di dunia yang masih hidup. Oleh karena itu kita bersama wajib menjaga kelangsungan hidup mereka.

Ezra, backpacker dari Kanada yang pernah berlibur selama 2 bulan di Sumatra, memilih Orang-Utan, nampak jelas bahwa dia mengalami liburan yang menyenangkan, karena di lain kesempatan, ketika aku mempresentasikan tentang perayaan kemerdekaan di negaraku dan tentang masakan khas negaraku, dia yang paling antusias mendengarkan dan memberi pertanyaan.

Voila, that’s it for now, we’ll continue it later, and tomorrow we’ll have a big party in the embassy. Happy Eid!

Take the time to make some sense
Of what you want to say
And cast your words away upon the waves
Sail them home with acquiesce
On a ship of hope today
And as they land upon the shore
Tell them not to fear no more
Say it loud and sing it proud
Today…

And then dance if you want to dance
Please brother take a chance
You know they’re gonna go
Which way they wanna go
All we know is that we don’t know –
How it’s gonna be
Please brother let it be
Life on the other hand won’t make us understand
We’re all part of the masterplan

Say it loud and sing it proud
Today…
I’m not saying right is wrong
It’s up to us to make
The best of all the things that come our way
Coz everything that’s been has past
The answer’s in the looking glass
There’s four and twenty million doors
On life’s endless corridor
Say it loud and sing it proud
And they…

Will dance if they want to dance
Please brother take a chance
You know they’re gonna go
Which way they wanna go
All we know is that we don’t know –
How it’s gonna be
Please brother let it be
Life on the other hand won’t make you understand
Why we’re all part of the masterplan

Wake your mind, listen to this beautiful song..

Seperti pagi biasanya, pagi ini aku terbangun dengan lagu Morning Glory milik Oasis mengalun keras di Blackberry kesayanganku (yang telah menjadi asisten pribadiku selama kurang lebih 14 bulan terakhir). Dan pagi ini aku merasa kurang nyaman, karena, untuk kesekian kalinya aku bermimpi buruk. Aku bermimpi membunuh orang, dan, lagi-lagi, dengan cara yang cukup sadis. Aku masih ingat dalam mimpiku, bagaimana leher orang yang aku tebas memancarkan darah dan suara mengerikan orang yang pita suaranya hampir putus. Huff. I have no idea why I got that nightmare. I dun have any enemy so far. I know, whenever I have a problem, I always got a nightmare. But the night before ist the worst one, and this time, I got a nightmare without having any problem. OK, that’s enough, I dun wanna talk about this anymore. Now lets get into our todays topic.

Dan sekarang waktu menunjukkan pukul 22.56 (local time Berlin). Aku menuliskan posting ini dengan ditemani lagu meditasi Zen berjudul Girls From Heaven, sebuah lagu dari musisi bernama Koan, diambil dari album berjudul Two Moon Butterflies. Hari ini, sekolah bahasa di Hartnackschule berjalan lancar. Alhamdulillah. Tidak ada sesuatu yang yang terjadi di sekolahku yang pantas untuk aku tuliskan disini.

Dan hari ini, akhirnya, aku menuntaskan keinginanku untuk berkunjung ke beberapa museum di Berlin (karena museumnya ratusan, jadi aku cicil dulu. Hehe). Eintrittskarte (Entry fee) museum-museum tersebut tidaklah murah bila dibandingkan dengan museum di Indonesia. Aku masih ingat ketika dulu, aku masih di Jakarta, dan aku berkunjung ke Kota Tua bersama beberapa temanku dari Goethe Institut (Rea-cowok paling konyol yang pernah aku temui-, Niken, dan Shally), dan aku masuk salah satu dari sekian museum disana dengan hanya membayar 2500 rupiah. Bandingkan dengan museum-museum di Jerman. Salah satunya adalah DDR Museum (DDR adalah singkatan dari Deutsche Demokratische Republik, atau sering kita kenal dengan Jerman Timur). Tiket masuk reguler DDR Museum adalah € 5,5. Namun aku hanya perlu membayar sebesar € 3,5 dengan menunjukkan Schulerausweis (kartu tanda pelajar). Walaupun lebih murah, tapi tetap saja mahal bila kita rupiah-kan (sekitar 50000 rupiah), dan itu juga cukup untuk satu porsi Currywurst mit Pommes (Sosis sapi plus kentang goreng satu piring, plus saos berwarna kuning dan merah) dan secangkir kopi panas (menu favoritku di rumah makan Turki dekat rumahku, Beussel Grill).

Luas DDR Museum tidaklah besar, namun museum tersebut terkenal sebagai salah satu dari sekian museum paling interaktif di dunia. Di museum tersebut kita bisa merasakan bagaimana hidup sebagai warga Jerman Timur, sebelum penyatuan kembali (tentang penyatuan kembali Jerman silahkan lihat di beberapa posting sebelumnya). Kita bisa melihat banyak video, mendengarkan siaran radio DDR, baik radio remaja maupun propaganda pemerintah, dan memegang langsung alat-alat dan pakaian yang dikenakan warga Jerman Timur. Bagaimana rezim komunis menciptakan sebuah tarian sebagai tandingan dari Rock’n'Roll milik Elvis Pressley (Barat) yang pada waktu itu mendunia. Dan celana bermotif kotak-kotak sebagai tandingan dari jeans yang ngepop di kalangan anak muda. Dan banyak pula hal lain yang perlu kita ketahui, mengingat sejarah tersebut tidak hanya milik Jerman, tetapi milik dunia karena dampak dari perang antara paham sosialis-komunis dan kapitalis-liberal yang telah merambah ke seluruh dunia.

Lanjut ke tujuan kedua, Museumsinsel, yang terletak tak jauh dari DDR Museum. Museumsinsel, secara bahasa, kurang lebih berarti Pulau Museum (Museums  = Museum (pl.); Insel = Island / Pulau. Jadi, Museumsinsel adalah sebuah pulau dimana di dalamnya terdapat lima museum (mulai dari depan: Altes Museum, Neues Museum, Nationalgalerie, Pergamonmuseum, dan Bode-Museum) Diantara kelima museum tersebut (minus satu -Bode Museum- karena masih dalam tahap pembangunan -atau mungkin perenovasian-) yang aku kunjungi hanya Altes Museum dan Pergamonmuseum. Pada awalnya aku ingin mengunjungi kesemua museum tersebut, tetapi karena keterbatasan waktu (satu dari museum tersebut, aku memerlukan waktu hingga satu jam lebih untuk melihat – lihat, entah karena memang museumnya yang luas atau menarik -dengan koleksi yang tiada duanya-, sehingga membuatku jadi lupa waktu). Yang jelas di kedua museum tersebut aku mendapat pengalaman yang tak pernah kudapatkan sebelumnya. Di entrance Museumsinsel, kita dipersilahkan untuk mengenakan sebuah headphone yang terkoneksi ke sebuah device (alat) seukuran handphone. Dan di masing-masing artefak (atau ruangan dengan suatu tema tertentu) terdapat nomor. Bila kita ketikkan nomor tersebut ke device dan kita klik tombol play, maka suara akan keluar dari headphone yang terpasang di telinga kita, dan akan menjelaskan tentang artefak tersebut sesuai dengan pilihan bahasa yang kita prefer. English, Deutsch, atau yang lain (tentu saja tidak ada pilihan bahasa Indonesia). Cukup keren (dan cukup membuatku lupa waktu).

And I took many pictures along the way..

It’s been five days since I wrote the last post. Actually I’ve preparing to write about Pergamonmuseum, Museums Insel, Museum für Naturkunde, DDR Museum, and many more museums in Berlin. But things went out of the plan. And I really hate that. Banyak hal yang membuatku mengurungkan niat berkeliling ke museum-museum tersebut: 1. Belum hafal jalan, dan aku harus berkali-kali membuka situs BVG dan Berlin.de untuk melihat, dan mencari jalan atau rute terdekat menuju museum-museum yang telah kurencanakan tersebut, dan kemudian mencatatnya di peta mini yang aku ambil (dengan gratis) di U-Bahnhof Nollendorfplatz; 2. Belum ada waktu yang tepat untuk bepergian, karena jujur aja, aku masih belum begitu terbiasa dengan kondisi lingkungan (dimana pada jam-jam 7 hingga 8 malam jalan-jalan sepi dan toko-toko udah pada tutup) dan jadwal sholat (yang sangat berbeda dibanding Indonesia, karena disini, pada waktu musim gugur, hari sangat pendek, sebagai contoh: jam masih menunjukkan pukul 4 sore tetapi matahari sudah malas menyinari permukaan Bumi Berlin); 3. Masalah uang, ini yang terpenting, Jungen Konto yang aku buka di Deutsche Bank tak kunjung selesai diproses (tetapi segera, karena aku baru saja menerima kartu Geldautomat (ATM) dan nomor PIN dari Deutsche Bank, dan hari Senin, 16. November 2009 aku ada termin (appointment) dengan Herr Jáchmann di Deutsche Bank untuk menyelesaikan urusan uang bulananku), berkaitan dengan uang, aku juga baru sadar bahwa aku belum meminta kartu tanda pelajar dari Hartnackschule (dan kartu itu penting agar kita mendapat potongan biaya ketika membayar entry fee untuk masuk ke museum-museum di Berlin dan juga public service lain). Dan ketiga permasalahan tersebut, aku rencanakan sudah terselesaikan dengan baik, terhitung mulai hari Selasa, 17. November 2009. Hoffentlich. Dan setelah itu aku bisa mengunjungi beberapa diantara 170 museum (believe me!) di kota Berlin.

Well that’s our first topic. And now, as a matter of fact, aku sedang menulis posting ini, sambil makan makanan Turki. Karena tadi sore, ketika teman-teman satu flat sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, dan bang Husein (der Boss) sedang tidak ada dirumah, seseorang membunyikan bel, dan aku membukakan pintu. Seorang ibu berumur sekitar 50-an berdiri di depan pintu, dia meminta maaf telah mengganggu, dan menanyakan kepadaku (dalam bahasa Jerman) yang kurang lebih artinya: apakah teman-temanku yang lain sedang tidur. Aku jawab “Ja”. And she asked me if I have some rice for her. Then I went to the kitchen, and I came back with a bowl of rice, I gave it to her. She thanked me. Dan akhirnya setelah beberapa lama dia kembali (untuk mengembalikan mangkuk yang aku pakai sebagai wadah beras) dan di mangkuk tersebut sudah ada masakan Turki yang unik (tetapi rasanya lumayan juga). Masakan tersebut menggunakan bahan dasar nasi, yang disajikan dengan cara dimasukkan pada buah paprika yang telah dikosongkan dalamnya. Sekilas nasi di dalam buah paprika tersebut nampak seperti nasi goreng, tetapi rasanya jauh berbeda. Tidak ada bumbu dengan aroma khas seperti halnya masakan Indonesia. dan nasi tersebut juga dicampur dengan daging yang telah dihaluskan.

Topik ketiga, tentang game futsal yang aku mainkan bersama kenalan-kenalan baru (para pelajar Indonesia yang tinggal di Berlin) pagi hari ini, di Sporthalle di Rathenhowerstraße. Well, my first game here isn’t really bad, I scored three goals. And the good thing is: Ich habe viele neue Freunde kennengelernt (I have met many new friends). Semuanya berumur diatasku, kebanyakan dari mereka telah melewati masa-masa studienkolleg dan sedang menjalani kuliah. Mereka semua adalah teman-teman yang menyenangkan. Belum terbayang sebelumnya bahwa disini aku akan menemukan banyak sekali pelajar-pelajar (atau perantau) yang menimba ilmu di negeri yang jauh dari motherland mereka, Indonesia. Additional news on this topic : Jumat kemarin, 13. November 2009 adalah sholat Jumat pertamaku setelah dua minggu lebih tinggal di Jerman. And I’m pretty amazed ketika melihat banyaknya jama’ah, juga melihat begitu niatnya mereka menyulap ruangan apartemen menjadi sebuah masjid, lengkap dengan sistem audio dan video, dan koleksi buku-buku Islami yang lumayan memadai. Dan jama’ah yang datang pun juga ada yang dari luar Indonesia. Dan mereka tetap datang walaupun khutbah disampaikan dalam bahasa Indonesia (karena memang yang mendirikan adalah orang-orang Indonesia).

Last but not least, hari ini adalah hari pertama aku berkomunikasi (setelah lebih dari seminggu) dengan salah satu teman dekatku selama dua bulan lebih di Goethe Institut Jakarta. Banyak kendala (teknis) yang membuat komunikasi diantara kami yang kurang terjalin dengan baik, tidak seperti teman-teman yang lain yang selalu online melalui MSN messenger atau Facebook. Dan sistem komunikasi CDMA yang juga membatasi kami dalam berkomunikasi. Well, finally she is online and we talk about many things. One of those things is my plan to take the Medizin-Kurs, though I know that it’s a hard thing to do.

Pagi ini, aku berangkat ke Hartncakschule agak sedikit terlambat. Jam sudah menunjukkan pukul 08.30 ketika aku menutup pintu wohnung (apartemen) tempatku menginap, dan aku masih harus turun dari lantai 2 dan berjalan beberapa ratus meter menuju halte bus terdekat. Padahal bus sudah harus berangkat pukul 08.33, dan di Berlin, jarang sekali ada cerita bus molor dari jadwal. Jadi aku harus sedikit berlari menuju bus yang akan kunaiki, karena bus selanjutnya baru berangkat pukul 08.55, and I won’t take that second bus cz the lesson will be started at 9.

Sesampainya di Hartnackschule, aku duduk di tempatku biasanya, disebelah temanku dari Russia, Erik. Seperti biasa, dia datang termasuk paling pagi dan dia termasuk anak yang rajin karena setiap kali aku datang aku selalu melihat dia sedang diam sambil belajar (diamnya benar-benar pendiam hingga lebih mirip sebuah robot daripada seorang manusia, hehe, sorry mate, I got to say this but actually u r a good friend).

Well I think that’s enought for the opening, now let’s get in the topic. Hari ini ada yang sedikit berbeda di sekolah. Frau Theis yang seharunya menjadi Lehrerin (pengajar-Deutsch) tidak dapat hadir dan posisinya digantikan oleh Herr Dietrich, lengkapnya Günter Dietrich (mendengar namanya aku jadi ingat penulis terkenal bernama Günter Grass, hehe). Beliau sudah berumur, terlihat dari rambutnya yang sudah memutih. Namun, guratan-guratan tegas dan ekspresi wajah yang bersemangat sedikit banyak telah menyembunyikan usianya yang sudah tidak muda lagi.

Well, topik bahasan di kelas masih tetap seperti hari sebelumnya, yakni tentang Fest, atau perayaan, dan di kelas, Herr Dietrich banyak bercerita mengenai Deutsche Nationalfeiertag, dan banyak berputar-putar mengenai die Gesischte von dem Mauer (sejarah tembok Berlin). Dari beliau pula aku mengenal lebih lanjut, bagaimana orang Jerman merayakannya, dan bagaimana perasaan orang Jerman pada waktu tembok Berlin diruntuhkan (9. November 1989) dan penyatuan resmi antara Jerman Timur (Deutsche Demokratische Republik), dan Jerman Barat. Beliau bercerita bahwa pada saat itu beliau baru 2 tahun berada di Berlin, sebelumnya beliau tinggal di daerah Suddeutschland (Jerman bagian selatan). Mendengar cerita beliau, (bagaimana beliau pada awalnya tidak percaya ketika mendapat telepon dari salah seorang teman yang memberitahukan bahwa tembok Berlin diruntuhkan, dan bagaimana beliau harus mengayuh sepeda sekencang mungkin dengan perasaan bahagia menuju Brandenburger Tor untuk bertemu dengan saudara-saudaranya sebangsa yang telah terpisah selama bertahun-tahun oleh kediktatoran Soviet) entah kenapa, aku jadi ikut merasakan perasaan orang Jerman, perasaan bahagia, kebebasan sepenuhnya. Kemerdekaan.

Dan pada malam harinya, aku benar-benar berada ditengah-tengah keramaian orang-orang yang merayakan runtuhnya tembok Berlin. Aku berangkat dari rumah pukul setengah 6 malam (di Berlin jam-jam seperti ini langit sudah gelap), menuju Martin-Luther-Straße, menuju rumah sepupuku. Niatan awalku sih pengen ngajak dia ikutan, biar ada temennya, eh ternyata dia sedang agak sakit. Akhirnya aku hanya pinjam kameranya, kemudian aku langsung berangkat menuju Brandenburger Tor. Dari U-Bahnhof (subway) Innsbrucker Platz, aku naik U-Bahn sampai ke Nollendorfplatz, dan di Nolle, aku umsteigen (ganti kereta) menuju Potsdamer Platz, dan dari Potsdamer Platz, aku berencana untuk jalan kaki hingga Brandenburger Tor, karena aku yakin aku tidak bisa lebih dekat dari itu karena pasti sudah terlalu banyak orang di dekat Brandenburger Tor. Dan kenyatan lebih parah dari bayangan. Baru kali ini aku merasakan U-Bahn (subway) di Berlin penuh sesak, bahkan kita harus berdesak-desakan untuk masuk. Parah. Aku mendadak teringat KRL Jabodetabek, dimana kita harus beradu fisik untuk bisa masuk kedalam kereta, hehe. Dan baru kali ini pula aku merasa di Berlin tidak seperti berada di Jerman, karena saking banyaknya turis internasional sehingga bahasa yang lebih sering masuk ke telingaku adalah bahasa Inggris, bukan Jerman. Dan aku di U-Bahn terjebak diantara rombongan orang-orang Spanyol, and I don’t understand any of their words.

Sesampainya di Potsdamer Platz, benar saja, aku berhenti sekitar 500 m dari Brandenburger Tor, and I can’t come any closer. Damn. Da gibt es so viel Leute. There are soooo many people. And all I can do is just to get the best view of the large screen (yeah, there are some large screen on the Potsdamer Platz). Sedikit banyak aku merasa senang berada diantara mereka, dan ada perasaan heran (dan kagum) melihat banyaknya anak-anak muda berkumpul untuk ikut merayakannya. Ribuan orang berkumpul di dekat Brandenburger Tor dan mereka tidak peduli akan udara dingin yang menusuk kulit. Hujan juga menambah dingin udara luar musim di musim gugur ini. Butir-butir air hujan yang bahkan terasa lebih dingin dari air es membuat jari-jari tanganku (sekali lagi, aku lupa mengenakan sarung tangan yang aku beli di H & M) serasa beku. Dan aku harus memegang kamera digitalku untuk mengabadikan beberapa momen penting di perayaan tersebut. Disana sudah berkumpul para undangan dari berbagai negara. Nicolas Sarkozy (presiden Perancis), Hillary Clinton (Menlu AS), PM Inggris Gordon Brown, Mikhail Gorbachow (former leader of Russia, pencetus Glasnost dan Perestroika), presiden Polandia, Portugal, und so weiter.

Malam itu, aku mendengar, melihat, dan merasakan, bagaimana kemerdekaan yang pada akhirnya dapat direngkuh oleh warga Jerman. I saw those people crying out, yelling, and singing together, singing their national anthem. Dan pekik kemerdekaan membahana di langit-langit kota Berlin. Namun bukan kata “Merdeka!” yang sering kita dengar setiap 17 Agustus, melainkan pekik “Freiheit!” yang mempunyai arti sama, dan semua orang berteriak, penuh rasa lega dan kebahagiaan. Kadang aku merasa iri, mengapa kita tidak bisa seperti mereka, anak-anak muda yang di waktu hujan dan udara dingin yang menusuk, ikut bersorak, bernyanyi, dan mendengarkan pidato pemimpin negara mereka, Angela Merkel, dengan khidmat. Dan perayaan tersebut akhirnya ditutup dengan Feuerwerk (pesta kembang api) yang keren.

Freiheit! Freiheit! Die Mauer Muss Weg!

Maaf atas judul diatas yang agak membingungkan. Namun itu kenyataan, seharusnya kemarin, hari Jumat, 6 November 2009 adalah hari kelimaku menjalani Sprachkurs (atau Language Course) di Hartnackschule Berlin. Namun kenyataanya tidak, hari Jumat kemarin adalah hari keempat aku bersekolah karena pada hari Senin aku tidak menghadiri unterricht (KBM – in Deutsch). Pada hari Senin lalu aku harus mendatangi Rathaus (Town Hall) Tiergarten untuk mendaftarkan diriku sebagai warga setempat. Pada hari itu aku sudah diwanti-wanti untuk bangun pagi agar mendapat nomor antrian awal, sehingga kita tak perlu berlama-lama berada disana. Oke, dan akhirnya aku bangun jam 6 kurang. As a matter of fact, subuh disana baru mulai pukul setengah 6, jadi bisa dibayangkan bila pada saat aku bangun, langit masih gelap.

Kembali ke topik awal, tentang hari keempatku di Hartnackschule, para schüler (siswa) mempresentasikan tentang typische feierfest, atau perayaan yang khas di negara masing-masing. Dan aku mempresentasikan tentang unabhängigkeitstag (*independence day) yang dirayakan tiap 17. August.

Poin yang aku tekankan (selain lomba-lomba untuk anak-anak) adalah mengenai esensi dari perayaan hari kemerdekaan itu sendiri, semangat yang dimunculkan dalam perayaan tersebut, dimana pada hari tersebut orang berdoa bersama, dan bernyanyi bersama dengan penuh semangat, nyanyian yang (seharusnya) dapat membangkitkan rasa nasionalisme kita dan bukan hanya nasionalisme semu yang ditunjukkan ketika kita marah ketika hasil budaya kita diklaim oleh bangsa lain, melainkan juga nasionalisme yang berimplikasi pada kehidupan sehari-hari kita. Dan nampaknya masih banyak yang tidak melaksanakan hal tersebut. Terlihat dari banyaknya “kecurangan-kecurangan” kecil yang terjadi di sekitar kita. Kita sering melihat betapa banyak siswa yang mengikuti (dan memang hanya sekedar mengikuti) kegiatan belajar mengajar tanpa ada semangat untuk belajar (dan hal-hal lain yang pastinya kita semua sudah bosan mendengarnya, kita semua tahu akan hal tersebut tetapi bagusnya kita masih mampu bersikap apatis dan selalu mencari-dan meng”ada”kan-hal positif dari sikap kita sehari-hari. Bagus! Dan nasib bangsa kita takkan pernah berubah sampai kiamat). Aku secara pribadi menganalogikan sikap orang-orang dengan anjing-anjing (atau kucing) yang mengorek-orek tempat sampah dan mencari sesuatu yang masih bagus untuk dimakan. Tidak manusiawi. Pathetic.

Dan mereka (para siswa yang berasal dari belasan negara berbeda) merespon positif hal tersebut. Dan yang paling menarik bagi mereka adalah mengenai lomba panjat pinang. Tak lupa, mereka juga menanyakan perihal makanan khas. Well actually there is no typical food in this ceremony, but I told them that Indonesia has so many typical foods, and every region has it’s own. And they are amazed.

Dan aku juga banyak mendapat masukan informasi dari negara-negara lain, mengenai typische feierfest mereka. Dari Kanada, dia bercerita tentang Halloween (yang telah kita kenal). Dari Arab, tentang Idul Fitri dan Idul Adha. Dari Iran, tentang upacara tradisional yang berasal dari kepercayaan kuno Zarathustra. Upacara tersebut sangat mirip dengan Halloween, dan tidak dirayakan oleh anak kecil saja, tetapi juga orang-orang dewasa. Dari Bulgaria, bercerita tentang upacara yang bertajuk Georgolo. Upacara tersebut berasal dari kepercayaan kuno, dan pada hari perayaan tersebut para ibu-ibu memandikan anaknya di sebuah sungai yang dipercaya membawa kesehatan kepada anak tersebut. Cukup unik. Dan yang menarik adalah, diantara kami semua, hanya dua orang yang menceritakan tentang unabhängigkeitstag, yakni aku dan temanku Anas, yang berasal dari Jordania.

Oasis – Morning Glory

All your dreams are made
When you’re chained to (your) mirror with (your) razor blade
Today’s the day that all the world will see
Another sunny afternoon
(I’m) walking to the sound of your favorite tune
Tomorrow never knows what it doesn’t know too soon

Need a little time to wake up
Need a little time to wake up wake up
Need a little time to wake up
Need a little time to rest your mind
You know you should so I guess you might as well

What’s the story morning glory
Well
(you) need a little time to wake up
Wake up well
What’s the story morning glory
Well
Need a little time to wake up
Wake up

(Cos) all your dreams are made
Now you’re chained to the mirror with your razor blade
Today’s the day that all the world will see
(It’s) another sunny afternoon
Yeah I’m walking to the sound of my favorite tune
Tomorrow doesn’t know what it doesn’t know too soon

Need a little time to wake up
Need a little time to wake up
Need a little time to wake up
Need a little time to rest your mind
You know you should so I guess that you might as well

What’s the story morning glory
Well
Need a little time to wake up, wake up
Well
What’s the story morning glory
Well

Need a little time to wake up, wake up
Well
What’s the story morning glory
Well
Need a little time to wake up, wake up
Well
What’s the story morning glory
Well ? 
 

Lagu diatas adalah themesong-ku pagi ini, dan mungkin malah tiap pagi, karena lagu tersebut yang selalu mengalun di hapeku sebagai alarm. Tidak hanya mambangunkanku secara fisik, tetapi juga secara psikis, as well. Semangat, itulah yang selalu kurasakan setiap kali mendengarkan noise gitarnya Noel Gallagher di intro musik, teriakan garang Liam Gallagher, betotan bass penuh semangat Andy Bell, dan dentuman drum Chris Sharrock. Keren.

über mich..

Ich heisse Fikri Hilmi, und ich studiere noch in Berlin. Am 9. Januar 1991 in Mojokerto hab ich geboren. Jetzt bin ich 18 Jahre alt. Das ist ein Blog über mich, mein Leben, und meinen Gedanke.

My name is Fikri Hilmi, and I'm still studying in Berlin. I was born in Mojokerto, on January 9th, 1991. Now I'm still 18. This is a blog about me, my life, and my thought.

as the time goes by..

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

bilder von Berlin

header3

IMG_4310

IMG_4308

IMG_4312

IMG_4307

IMG_4291

IMG_4274

IMG_4305

IMG_4309

More Photos

my tweet