Karneval der Kulturen

Lewat pukul satu siang, aku berada di Hermannplatz, yang terletak tidak jauh dari pusat kota Berlin. Hari itu, Minggu 23 Mei 2010 adalah hari spesial bagi seluruh warga Berlin (kalau mungkin tidak cukup besar untuk seluruh warga Jerman), karena pada hari tersebut diadakan sebuah parade budaya bertajuk “Karneval der Kulturen” yang artinya kurang lebih adalah Karnaval Budaya. Cukup menarik, acara ini, apabila kita melihat latar belakangnya diadakan acara ini. Sehari setelah acara ini, tepatnya hari Senin, 24 Mei 2010, adalah hari libur nasional, bernama Pfingsten. Di hari ini, menurut kepercayaan umat Nasrani, the Holy Spirit memberikan kemampuan kepada murid-murid Jesus untuk berbicara dengan berbagai bahasa, untuk menyebarkan kalimat-kalimatnya. Maaf apabila penjelasan tersebut kurang tepat karena penulis sendiripun sebelumnya samasekali tidak pernah mendengar sejarahnya dan baru sedikit menangkap beberapa poin berkat penjelasan (dalam bahasa Jerman dan bukan bahasa Jerman sehari-hari) dari Oma. Oleh karena itu Karnaval ini dimeriahkan oleh kontestan dari berbagai negara dan disini semua orang berbaur satu sama lein dan saling mengenal budaya negara-negara lain.

Dan akupun berdiri ditengah kerumunan orang yang sangat antusias ingin melihat peserta-peserta dari berbagai negara berunjuk kebolehan, mempertontonkan kebudayaan mereka masing masing. Brazil, Colombia, Bolivia, Peru, Chile, dan negara-negara Amerika Latin lainnya menjadi pusat perhatian dalam acara ini. Namun anehnya, Estados Unidos Mexicanos, alias Meksiko, yang juga negara yang kaya budaya (terutama dengan Sombrero-nya yang mendunia) kurang mendapat perhatian dari penonton karena memang kurang menarik. Well, hal ini juga disayangkan salah satu teman sekelasku yang berasal dari negara tersebut, Gloria.

Salah seorang teman dari Vietnam, Shing, pun ikut melontarkan komentar ketika grup dari Thailand melintas didepan kami, “Hey dimana kontestan dari negara kita, masa’ kalah dengan Thailand?” Yeah, mungkin penonton yang lainpun juga mengharapkan keikutsertaan Indonesia di acara ini, karena untuk masalah kekayaan budaya (bukan bermaksud sombong) Indonesia tidak pernah kalah dari negara-negara lain. Ditambah catatan bahwa pada tahun 2004 , tim dari Indonesia yang menamakan dirinya “Rampai Budaya Indonesia” menyandang status juara. Namun untuk tahun ini, warga Indonesia sedang berkabung. Ya, berkabung atas wafatnya Bu Ainun, istri dari mantan Presiden Indonesia, B.J. Habibie. Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya. Amin.

Foto-foto dalam slideshow ini memiliki kualitas gambar yang kurang baik, karena tenaga batere kameraku telah habis dan aku akhirnya menggunakan handphone Blackberry sepanjang jalannya acara. Untuk backsound, I put In Your Eyes by Peter Gabriel, taken from his live concert with Nusrat Fateh Ali Khan. Versi favoritku untuk lagu dengan lirik yang sangat indah ini.

Hingga pukul 6 sore, aku harus berpamitan dengan teman-temanku, termasuk Adelina dari Rumania, Yannick yang di beberapa posting sebelumnya sudah aku sebutkan, dan lain lain, karena pukul 7 malam (atau sore) aku harus berada di Opern Palais untuk menyaksikan penampilan pemain jazz terkenal dari Indonesia, Tohpati. Tulisan berikut foto-fotonya menyusul di posting berikutnya.

Set The Fire To The Third Bar

I find the map and draw a straight line
Over rivers, farms, and state lines
The distance from A to where you’d ‘B’
It’s only finger-lengths that I see
I touch the place where I’d find your face
My fingers in creases of distant dark places

I hang my coat up in the first bar
There is no peace that I’ve found so far
The laughter penetrates my silence
As drunken men find flaws in science

Their words mostly noises
Ghosts with just voices
Your words in my memory
Are like music to me

I’m miles from where you are,
I lay down on the cold ground
I, I pray that something picks me up
And sets me down in your warm arms

After I have travelled so far
We’d set the fire to the third bar
We’d share each other like an island
Until exhausted, close our eyelids
And dreaming, pick up from
The last place we left off
Your soft skin is weeping
A joy you can’t keep in

I’m miles from where you are,
I lay down on the cold ground
And I, I pray that something picks me up
and sets me down in your warm arms

And miles from where you are,
I lay down on the cold gound
and I, I pray that something picks me up
and sets me down in your warm arms


Well, today I had a chat with some friends in Indonesia. Some of them are really my close friends. And now I thought I feel like I miss my homeland, my hometown, my pals, and everything. Thats why in this post I just put a song (with a good lyric), by Snow Patrol, an english band.

God give me power. In less than a month I will do a test. Charité. Some guys told me that there are only two foreign students in a year who are able to enter this well-known-for-its-medicine-study University. But it’s ok, I will try. We’ll see. If I can go through this all, I will be thinking of coming back to my country.

A Tribute to My Friend

Senin malam menjelang dini hari, aku masih duduk di kamar, di depan meja, dan menatap buku C1 dengan bantuan cahaya lampu belajar. I felt like I was real tired and sleepy. But that night, I just don’t know why I wanna stay a bit longer. Sekitar pukul 11 malam, handphoneku bergetar (ya, bergetar, selama ini aku hampir selalu mengaktifkan handphoneku dalam modus getar). Di LCD terpampang sebuah pengingat. Pengingat ulangtahun tepatnya. Karena keesokan harinya adalah ulang tahun salah seorang teman, dialah Anggoro Dwi Purnomo. Pada tanggal 11 Mei, 19 tahun yang lalu, dia dilahirkan di dunia ini.

Dia seharusnya merayakan ulangtahunnya yang ke sembilan belas pada saat ini. Namun berkehendak lain. Dia telah berpulang ke Rahmatullah, bahkan di umur yang masih sangat muda. Sejenak aku berhenti dari kesibukanku dan menatap layar LCD handphone, sementara di kepalaku bergelayutan memori-memori dimana aku, Azis, Anggoro, dan teman-teman lain satu perumahan berkumpul, bercengkerama, bermain futsal, dan berbagai hal lain yang takkan pernah terhapuskan dari kepalaku. Masih teringat jelas juga di kepalaku, ketika dulu, aku sedang berada di tetangga Oma yang bernama Frau Euler, sebuah panggilan masuk dan aku agak heran ketika mengetahui bahwa panggilan tersebut berasal dari Indonesia, dari Anggoro. Dia menanyakan kabarku, kapan aku dan Azis pulang ke Kediri. Dan dia juga menanyakan kapan anggota persaudaraan Candra Kirana berkumpul tanpa kurang seorangpun. Dan kamipun untuk pertama kalinya bercakap-cakap, setelah sekian lama. Dan dua minggu kemudian, aku mendapat kabar bahwa dia telah tiada. Dunia serasa tiba-tiba gelap. Bukan hanya karena aku sedih karena kehilangan seorang teman dekat, melainkan juga karena aku berada di sebuah tempat yang jauh, bermil-mil jauhnya, dan aku tidak punya kesempatan untuk berkumpul dengan yang lain. Aku telah berjanji untuk segera pulang ke rumah dan berkumpul bersama teman-teman lain, namun aku tampaknya gagal menepati janjiku. Kadang (bahkan sering!) jalannya hidup ini tidak bisa diprediksi. Suatu saat kita tertawa, suatu saat kita sedih. Kadang kita seolah berada di puncak pegunungan Himalaya, kadang kita merasa berada di palung laut terdalam di dunia dan merasa bahwa kita sulit untuk keluar dari keadaan. Kadang kita sendiri yang secara tidak sadar (unterbewusstsein) menciptakan sebuah keadaan, dimana keadaan itu pada akhirnya akan menahan langkah kita untuk bergerak maju. Aku teringat ucapan Pak Malik: ibaratkan kita punya sebuah list rencana yang kita susun untuk kehidupan, dan di sisi lain, Tuhan punya list rencana-Nya sendiri. Ketika kedua daftar rencana itu kita sejajarkan, dan kita hubungkan tiap-tiap poin diantara keduanya yang saling match, itulah yang selama ini kita sebut dengan keberhasilan. Tentu saja tidak semua poin dari rencana kita punya match dengan poin yang ada di rencana Tuhan. Di sisi lain, hanya pasrah pada apa yang diberikan Tuhan tanpa ada tujuan atau rencana hidup yang jelas, juga kurang baik.

Well kadang juga, kita (termasuk aku) ketika kehilangan sesuatu atau seseorang, meneteskan air mata. Padahal di waktu yang bersamaan mulut kita mengucapkan kalimat yang artinya: sesungguhnya kita berasal dari Tuhan dan kepada-Nya kita kembali. Dulu, aku selalu ada perasaan ragu untuk mengucapkannya secara jelas. Bukan karena meragukan fakta kalimat tersebut, melainkan karena aku belum yakin aku mampu bersikap sesuai dengan makna kalimat tersebut. Apa makna dari kalimat tersebut kalau kita masih merasa kehilangan? Apa kalimat tersebut sekarang beralih fungsi menjadi tradisi yang diucapkan hanya ketika ada orang yang meninggal? Tidakkah aneh ketika mulut kita mengatakan bahwa kita ikhlas, namun didalam hati kita masih sedih dan belum merelakan? Oke tak perlu kita berlama-lama pada topik bahasan tersebut. Akupun disini tidak menjudge orang-orang (termasuk pembaca) melainkan diriku sendiri. Kadang aku sedih dan tidak menerima kenyataan yang ada. Tetapi ketika masalah berlalu, aku heran mengapa aku begitu mudahnya kecewa dan sedih. Apakah seiring berjalannya waktu, aku dapat berubah? Ask yourself, Fikri.

Disini aku ingin mempersembahkan sebuah lirik lagu dari Ari Lasso berjudul Mengejar Matahari. Salah satu dari beberapa lagu Indonesia favoritku.

Di sini ada satu kisah
Cerita tentang anak manusia
Menantang hidup bersama
Mencoba menggali makna cinta

Tetes air mata… Mengalir di sela derai tawa
Selamanya kita… Tak akan berhenti
mengejar…Matahari

Tajamnya pisau takkan sanggup
Koyakkan cinta antara kita
Menembus ruang dan waktu
Menyatu di dalam jiwaku



Hakescher Markt.

Last weekend was a super-duper-tiring day I’ve ever had so far. But it was pretty fun. Well, at Saturday, I played football with my mates, Indonesian students, along with some foreigner from Japan and Singapore (I’m back! after a-long-week-without-ball). And I still have a big problem until that last game: Ausdauer. Yeah I can’t ständig 90 minutes running. Actually I’ve planned to do some short-training-program including 30 minutes (or maybe an hour, bila waktu mencukupi) running along the park. Aber bisher kann ich leider keine richtige Zeit finden. Ich muss früh am morgen aufwachen, dann beginnt der unterricht um 9 uhr am morgen. Und dann bin ich wieder zurück zu Hause, normalerweise um 5 uhr nachmittag. Tidak berhenti sampai disitu. Sesampainya dirumah aku menghabiskan waktu di depan mejaku, entweder membaca buku, koran, majalah, oder mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk.

Well, lets go back to our topic. Tentang weekend. Sepulang dari lapangan bola, I took a bath. Segera aku menuju ke tempat yang aku pilih sebagai judul diatas : Hackescher Markt. Nama ini sebenarnya terdengar tidak asing di telingaku, yang pada bulan Mei ini telah menginjak usia setengah tahun menyandang ‘gelar’ sebagai seorang Berliner. Namun selama ini (sesuai dari informasi yang aku rangkum dari mulut teman-teman) yang ada di otakku selalu negatif. Hakescher Markt adalah tidak lebih dari sekedar deretan kafe-kafe yang ramai di waktu malam, ditambah status tak resmi sebagai pusat prostitusi (ya, prostitusi, beberapa minggu setelah aku tiba di Berlin, aku berjalan sepanjang Hackescher Markt dan menemukan beberapa (atau bahkan bisa dibilang banyak) perempuan-prempuan berkaki jenjang, berambut pirang, bertubuh aduhai, berwajah cantik, berpakaian minim dan seksi, yang berdiri dan memamerkan dirinya, dibawah siraman cahaya lampu warmlight dan sinar rembulan di malam hari, suasana diatas masih dilengkapi dengan trem khas Eropa yang melintas setiap sekian menit sekali. Well then I thought that Hackescher Markt wasn’t a real “markt”, it’s nothing more than just a name.

Paling tidak pemikiran tersebut langsung lenyap setelah weekend lalu, setelah dalam waktu yang lama berada di otakku. Semua berkat ajakan dari seorang sahabat dari Iran yang pada beberapa hari sebelumnya mengajakku untuk mengunjungi stand-nya di Hackescher Markt. Pasar tradisional tersebut, layaknya banyak pasar di Berlin, Jerman, dan bahkan di banyak tempat di negara-negara besar di Eropa, hanya diselenggarakan pada akhir pekan. Disana berjejer banyak stand, tak jarang dari mereka menawarkan barang-barang unik dan menarik, sebagai contoh toko sahabatku yang menjual kue khas Persia, (dan juga Arab dan Turki) bernama Baklava.

Hal tersebut tentu saja menarik banyak turis dari mancanegara yang pada saat itu sedang singgah di Berlin. Dan sahabatku tampak senang dengan kehadiranku, akupun turut membantu, terutama ketika dia harus berhadapan dengan para turis berbahasa Inggris. Dan akupun merasa senang karena kehadiranku tidak percuma, walaupun mungkin tidak terlalu berarti. Pukul setengah tujuh waktu setempat aku berpamitan. Tak lupa aku membeli satu pack Baklava. Dia memberiku lebih dari jumlah standard untuk satu pack, plus aku mendapatkan harga spesial. I need to pay only 3 €, instead of 5 €. Thankyou.

Umzug + Vorbereitungskurs.

Ein Umzug. That’s the main topic of my post today. This month, May, I moved. I’m no longer in Beusselstrasse, Tiergarten, but now I live in Innsbrucker Platz, Schöneberg, near my school. Well actually my cousin supposed to stay here, but he’s preparing to move to Switzerland (dunno what’s the name of the city) that’s why he called me and asked me if I wanted to replace him. But yeah, I feel good, cos when I move here, It means now I live with my Oma. Das heißt, ich muss unbedingt auf Deutsch sprechen. Gott sei Dank. And I began this month with a tiring day. Six hours Deutsch lernen. SIX hours. So I’ve decided to take 2 courses this month. I continue my C1 Kurs, which I’ve already begun since last month, und gleichzeitig habe ich mit dem Vorbereitungskurs angefangen.

Well, about my new class. Hmm, I’m pretty sad to leave my friends in my former class; Sasha, Gareth, Yosra, Sing, Maria, usw. Sie sind am besten. And my current class, Vorbereitungskurs für Studienkolleg, is pretty chaotisch. There are about thirty people in this class and most of them are from middle east and they speak den ganzen Tag auf Arabisch. Oh Gott, no way! Was soll das?? How long can I hold on against such situation. The way they speak, the way they behave in the class, undiszipliniert würde ich sagen. And it’s totally not me. Die Klasse ist sogar ganz anstrengend, mir ist sehr unangenehm. Die Materien sind eigentlich nicht so scwierig. Aber trotzdem, wegen der Zahl der Schüler, sind die Atmosphäre in der Klasse richtig chaotisch. Ich muss jetzt versuchen, in Ruhe zu bleiben. Nach dem Unterricht muss ich dann viele Hausaufgaben machen. I do everything for my goal, which I already planned to reach by the next 3 months : Charité Universitätzmedizin Berlin.

Satu lagi hal yang ingin aku lepaskan dari pikiranku – salah satunya melalui blog ini – adalah teman baruku. Lebih temannya teman sebangku baruku. Bukan di kelas C1 melainkan di kelas Vorbereitungskurs. Seorang pemuda dari salah satu negara di timur tengah. Awal berkenalan, dia terlihat senang setelah tahu namaku yang diambil dari bahasa Arab, kemudian setelah tahu bahwa agamaku Islam. But it didn’t last long. Selama pelajaran, dia mulai membicarakan hal-hal yang tidak penting (dan tidak penting juga untuk aku sampaikan disini, selebihnya agak ekstrem). Aku mulai agak terganggu. Kata-kata yang dia lontarkan hanya berputar-putar di masalah agama. Awalnya aku hanya ingatkan bahwa sebaiknya di waktu pelajaran, sebaiknya kita berkonsetrasi penuh, rather than bullshitting. Dia hanya tersenyum dan meneruskan ceramahnya. Oh Gott. OK, fine, I will be patient and stay focus. Di hari esoknya, ada seorang cewek Albania menempati tempat duduk di depan kami. Dan lagi, di waktu pelajaran, dia mulai mengatakan hal-hal yang tidak penting: “Seorang wanita berada di depan pria itu sangat tidak baik. Sangat TIDAK BAIK.” Oh Gott! Why should we care about that? We are not praying in a Mosque! We’re in a classroom! Then I said, wieso? das ist ganz normal, kein problem für mich -kenapa begitu? wajar aja, tidak menjadi masalah buatku. Dia terkejut, dan melihat reaksinya aku merasa jijik. You’re so pathetic, my friend. Kau manusia menyedihkan. Well then, menjelang akhir jam pelajaran, kami memperoleh beberapa latihan yang cukup sukar untuk dikerjakan. Thank God, materi latihan itu sudah pernah kuterima di kelasku yang lain, yang artinya aku bisa mengerjakan dengan cukup lancar. Namun tampaknya temanku tidak, dan dia terlihat sangat frustrasi. Aku keluarkan suara (tawa kecil, lebih tepatnya, yang tak lebih dari seperempat detik lamanya) bernada sinis yang sudah jadi ciri khas seorang Fikri selama di Indonesia dan baru keluar pada detik itu setelah waktu yang cukup lama. OK dan dia nampaknya kurang senang. Ketika pulang, dia tampak bergegas. Esoknya, dia nampak badmood, dan ketika aku ajak bicara, dia tampak membuang muka. Dalam hati aku ingin tertawa keras. Dasar anak kecil yang menyedihkan. Manusia menyedihkan seperti ini yang menurutku membuat orang-orang awam menjaga jarak terhadap dunia Islam yang sesungguhnya sangat indah, bersahabat, dan penuh kedamaian. Wake up, my friend.

Charlottenburg.

It was almost 7 o’clock in the evening. I walked through windy silence, along the place called Schloss Charlottenburg (Schloss=Palace), which is located in west Berlin. It was supposed to be dark already. But in fact, no. Nampak seperti pukul 5 sore malah, sore hari di Indonesia. Well, hari ini aku merasa baikan. Setelah beberapa minggu terakhir emosiku naik turun, entah kenapa, tak ada satupun alasan yang benar-benar jelas. Kepala serasa penuh dengan banyak hal. Mulai dari rencana liburan berantakan, laptop rusak (that’s why now I’m sitting in front of my friend’s laptop, which I can use for couple of days during his trip to Stuttgart), dan beberapa hal lain yang bergelayutan di otakku (yang mungkin volumenya tidak lebih banyak dari novel paling tebal yang pernah aku beli). Dan mulai awal bulan ini aku berada di kelas Oberstufe, singkatnya: C1. Yang artinya: materi yang semakin berat, topik diskusi yang semakin berat, dan Dozent (=pengajar) yang semakin strict. Dua kalimat terakhir tadi yang jelas bukan termasuk alasan penyebab aku merasa stress. Bahkan dua hal tadi membuatku mengalami hari paling men“y”enangkan selama beberapa minggu terakhir ini.

“..and here I lie, on my own little separated sky..”

(sejenak aku berhenti menulis, lagu berjudul Prospekt’s March dari Coldplay mengalun dari laptop)

Hari ini, seperti biasa, dimulai dengan toasted bread dengan selai madu. Sarapan favorit kedua setelah kentang dan salad. Sembari melahap roti, aku kerjakan beberapa tugas sekolah yang belum sempat kuselesaikan di malam hari sebelumnya. Dan sekolah berjalan seperti biasa, aku duduk di sebelah seorang sahabat dari Iran, yang baru aku kenal di kelas baru ini, dan di kiriku, berurutan, teman dari UK dan Spanyol. Kelas baru ini cukup menyenangkan, salah satunya karena aku satu-satunya makhluk dari Indonesia, yang artinya aku bisa menceritakan banyak hal tentang Indonesia dari sudut pandangku secara pribadi (sudut pandang positif, tentunya).

Sepulang dari kursus, I was supposed to be on Poststadion (tempatku berlatih sepakbola bersama teman-teman setiap minggu). But now I can’t come. Aku menjauhi sepakbola, mungkin untuk beberapa waktu kedepan. Tidak ada lagi nonton bola, tidak ada lagi menendang bola, tidak ada lagi permainan game Pro Evolution Soccer yang biasa aku mainkan bersama teman-teman dari Indonesia setiap akhir pekan. Well siapapun yang sudah mengenalku pasti mengetahui dan bisa memahami alasanku. Instead of attending the training session, I was there, visiting the most beautiful palace I’ve ever seen (at least till now, before I went to Prague, Czech, next Summer), Charlottenburg Palace.

Schloss Charlottenburg

Tepat di seberang jalan, terdapat Museum Beggruen, sebuah museum yang didirikan oleh jurnalis seni kelahiran Berlin, Heinz Beggruen. Tepat pada bulan ini, Museum Beggruen menyelenggarakan sebuah pameran lukisan, beberapa lukisan dan patung hasil karya artis-artis papan atas ditampilkan, termasuk Pablo Picasso, Henri Matisse, dan Paul Klee. Sangat menarik. Dan, untuk ketiga kalinya, tepat pada hari Kamis, Museum Beggruen tidak memungut uang sepeserpun untuk biaya masuk. What a coincidence. Thank God.

Aku menghabiskan waktu dua jam di dalam museum, hingga pukul 6 lebih, untuk kemudian berjalan-jalan sepanjang halaman istana yang luas, dan akhirnya menyusuri Schlosspark, taman istana, yang indah bukan main. Aku menikmati setiap langkahku, angin dingin musim semi Eropa menerpa wajahku, menghapus semua (semoga, semua) rasa gundah, emosi, yang selama ini menghantuiku. Hingga akhirnya lewat pukul 7, dan aku beranjak menuju halte bus M45 arah stasiun subway Zoologischer Garten, dimana subway telah menantikanku untuk mengantarku menuju rumah.

Demam Film di Berlin..

Setelah sekian lama tersimpan sebagai draf yang tak kunjung terselesaikan, akhirnya aku publish juga tulisan ini.

Demam film. Itulah frase singkat yang cukup jelas menggambarkan apa yang terjadi di Berlin selama seminggu terakhir ini. Mulai Kamis tanggal 11 Februari sampai dengan  21 Februari 2010 di Berlin diselenggarakan sebuah festival film bertaraf internasional bertajuk Berlinale Film Festival. Belasan bioskop di seantero Berlin digunakan untuk memutar puluhan film dari berbagai negara berbeda serta menampung puluhan ribu penikmat film dari seluruh dunia yang bahkan beberapa berniat untuk terbang ke Berlin hanya untuk melihat delegasi dari negaranya beraksi di layar.

Salah satu film yang kami rencanakan akan lihat adalah sebuah film produksi India berjudul My Name Is Khan. Dari beberapa review yang aku baca, film ini berkisah tentang seorang pemuda India beragama Islam (yang dalam film ini diperankan oleh Shahrukh Khan) yang mengalami berbagai pengalaman pahit dan hambatan sosial ketika harus menjalani hidup di USA. Cukup menarik bagiku, tema yang mereka angkat di film ini. Aku datang di antrean pembelian tiket, tepat di hari dimana tiket tersedia. Di sebuah mall bernama Arkaden, yang berlokasi tepat disamping stasiun subway Potsdamer Platz. Shelter (loket) dibuka pukul 10 pagi, dan aku datang pukul 10.15. Aku cukup yakin bakal mendapatkan tiket premiere (atau paling tidak untuk hari kedua dan ketiga, karena film ini diputar beberapa kali sepanjang festival film), namun perkiraanku salah total. Antrian sudah mencapai hampir 100 meter ketika aku tiba disana. Tepat saat aku berjarak sekitar 3 meter dari loket, aku lihat ke layar diatas loket yang menunjukkan ketersediaan tiket (seperti yang dapat kita temukan di loket kereta jarak jauh di stasiun Gambir, Jakarta), and I figured out that the tickets are all sold out! In just a minute! Hari pertama, kedua, dan ketiga untuk film My Name Is Khan telah berakhir, dan akhirnya aku mendapatkan tiket film My Name Is Khan untuk hari terakhir. Well, not bad, at least I’ve got an experience for the next time.

Malam itu, Jum’at 12 Februari 2010, aku berdiri di depan Berlinale Palast, along with hundreds of people from many countries. Well most of them are white people, but I saw also many Indians. I bet they’re waiting for their king, their hero, Shahrukh Khan. Mendengar nama ini rasanya teringat masa-masa SD dimana hampir semua orang begitu menggemari film India, yang lazim disebut Bollywood. And there he was, standing in front of me, just around 2 or 3 metres in front of me. I took some pictures of him. There were also Leonardo Di Caprio. Well, till now, I still couldn’t believe that I could be that close to them, manusia-manusia yang dulunya hanya aku lihat di layar televisi. Satu hal yang membuatku cukup kecewa adalah: tidak ada satupun delegasi dari Indonesia di acara akbar Berlinale ini. Padahal film ‘Laskar Pelangi’ mendapat sambutan cukup meriah dari penggemar film Eropa di Berlinale tahun lalu.

Hari Sabtu lalu, KBRI pun mengadakan Filmvorführung (pemutaran film) berjudul ‘Jamila dan Sang Presiden’. Film yang bermuatkan kritik terhadap pemerintah ini mendapatkan penghargaan saat mengikuti festival film di Italia dan Prancis. Film yang cukup bagus dan padat, membangkitakn rasa optimisku, bahwa ternyata masih banyak sineas-sineas Indonesia yang berbakat memproduksi film yang mengangkat tema-tema sosial yang berat. Banyak orang Jerman (undangan khusus dari KBRI) yang mengikuti pemutaran film ini. Yang cukup menarik adalah, film ini diproduseri oleh Raam Punjabi (yang hadir langsung pada pemutaran film di KBRI), produser film dan sinetron kenamaan yang banyak dihujat oleh orang, karena merusak moral dan otak masyarakat Indonesia dengan sinetron-sinetron maupun film-filmnya yang murahan.

Internationale Grüne Woche – Berlin

Seperti beberapa hari terakhir, salju hari ini turun deras dan suhu diluar mencapai kisaran -15. It’s damn cold. Well I got a real good topic this time. It’s mainly about an “austellung” (Deutsch, which means exhibition) called Internationale Grüne Woche (International Green Week), yang diselenggarakan di Berlin, sekali tiap tahun, mulai tanggal 15 hingga 24 Januari. Grüne Woche, begitu pameran ini akrab disebut, adalah sebuah pameran yang mempertunjukkan (terutama) sajian masakan dari seluruh dunia. Masih ada lagi selain masakan, yakni di bidang pertanian, perkebunan, dan peternakan. Dilihat dari namanya, pameran ini mengajak kita untuk kembali pada alam, sebuah dunia yang hijau yang telah eksis di Bumi ini bahkan sebelum manusia modern mendirikan bangunan pertama, yang nampaknya sudah mulai terlupakan, secara ironis tergantikan posisinya oleh bangunan-bangunan megah nan mewah.

Mengunjungi pameran ini juga merupakan salah satu bagian dari program studi di Hartnackschule, sekolah bahasa dimana aku berada sekarang. It’s called an “Exkursion”, where we must go outdoor and socialize with people. Cos we need language to communicate, not only written but also orally. We went to this exhibition on Friday morning, a week ago. Our teacher said we should go on Friday instead of Saturday, cos there’ll be too crowded, a lot of people on weekend and we can’t possibly enjoy it. Event ini benar-benar menarik perhatian banyak orang sehingga kami tidak punya pilihan lain selain berada disana setengah jam sebelum gedung pameran dibuka. Sekitar jam 9.30 pagi. Dan benar saja, ketika kami datang, sudah ada orang mengantre didepan loket untuk membeli tiket masuk yang bahkan tidak terlalu murah untuk orang Jerman sendiripun (€ 12 harga normal, dan khusus pelajar, kami mendapat keringanan biaya, sehingga kami hanya perlu membayar € 7)

Banyak negara ikut berpartisipasi dalam acara ini, sebutlah Russia, Üngarn (Hungaria), Norwegia, Italia, Swiss, Austria, Belanda, Rep. Ceko, Slovakia, USA, Kanada, Inggris, Turki, Arab, Iran, Lebanon, China, Jepang, bahkan Vietnam dan Thailand, dan masih banyak yang lainnya (bahkan beberapa negara dari Afrika dan Amerika Latin pun ikut ambil bagian dalam event akbar ini). One thing that probably a bit dissappointing is, I couldn’t find any Indonesian foods there. Wie schade, I couldn’t remember the names of those dishes. One that I could easily remember was Yoghurt mit Walnuss from Dänemark (Denmark). Semua negara bebas mendesain tempatnya sendiri-sendiri. Bahkan di bagian domestik, tiap-tiap Bundesland (sebutan untuk negara bagian) mendapat tempat tersendiri. Semuanya menonjolkan budayanya masing-masing. Yang cukup menarik adalah di bagian negara Belanda, dimana terdapat kincir angin raksasa, berdiri kokoh di pojok salah satu ruangan. Perlu diketahui, pameran ini bertempat di Messegelände, yang terdiri dari puluhan ruangan seukuran empat (atau mungkin enam) kali lapangan basket dan tersambung menjadi satu. Bahkan tidak hanya satu tingkat, melainkan tiga tingkat. Bisa dibayangkan betapa luas kompleks Messegelände (yang nampaknya dilihat dari namanya, Messe yg berarti pameran, didirikan khusus untuk even-even eksibisi bertaraf internasional) ini.

Tak kalah menarik, Hungaria, yakni mengenai salah satu kota mereka bernama Pécs, sebuah kota kecil di lereng pegunungan Mecsek di bagian selatan Hungaria, dekat dengan perbatasan antara Hungaria dan Kroasia. Kota penuh nilai sejarah yang pada tahun 2010 terpilih sebagai Kulturhaupstadt Europas (Ibukota budaya Eropa). Ada banyak informasi yang mereka sediakan berkaitan dengan kota ini. Termasuk video yang mempertontonkan bangunan-bangunan dan pemandangan di kota mereka. Well, intinya adalah, di pameran ini banyak negara berkompetisi untuk memajukan tourism negaranya masing-masing. But that’s not bad at all. Dari sini kita bisa mengetahui banyak budaya negara lain, dan juga menjadi referensi untuk liburan mendatang (yang memang aku rencanakan untuk kota-kota kecil, untuk menghemat biaya, dan salah satu syaratnya adalah: kota tersebut harus memiliki nilai sejarah tinggi). Selain masakan, aku juga mengunjuni bagian pertanian, peternakan, dan perkebunan (untuk bagian yang disebutkan terakhir, aku yakin 100 persen ayahku akan menghabiskan waktu tak kurang dari satu jam disana). Namun aku kurang begitu tertarik, so aku tidak bisa bercerita banyak tentang mereka. Overall, it was super cool. I was there for about 4 hours and I tried many dishes from the countries throughout the world.

Blog at WordPress.com.
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.